Pelita yang Tak Pernah Padam

“Kasih tidak pernah berakhir.”

(1 Korintus 13:8)

Di sebuah desa kecil yang dipeluk laut biru dan diteduhi pohon kelapa dan cemara, hiduplah seorang perempuan bernama Marta. Orang-orang mengenalnya bukan karena hartanya, bukan pula karena jabatan yang tinggi, melainkan karena senyumnya yang tak pernah habis dan langkahnya yang selalu menuju rumah Tuhan.

Sudah sebelas tahun ia menjanda.

Suaminya dipanggil Tuhan ketika anak bungsunya bahkan belum cukup mengenal arti kata “Ayah”. Sejak hari itu, langit hidupnya berubah warna. Air mata menjadi bahasa yang paling sering dipahami, sementara doa menjadi satu-satunya tempat ia meletakkan segala beban.

Ia memiliki dua anak. Anak sulung laki-laki bernama Samuel, yang mulai belajar memahami kerasnya hidup lebih cepat daripada usianya. Anak bungsunya, perempuan, Debora, masih senang memeluk boneka kain yang telah lusuh dimakan waktu.

Rumah mereka kecil. Atap sengnya berbunyi setiap kali hujan turun. Dinding papan yang mulai lapuk membiarkan angin laut masuk tanpa permisi. Tetapi di ruang tamu berdiri sebuah salib kayu sederhana dan sebuah Alkitab yang halaman-halamannya mulai menguning karena terlalu sering dibuka.

Marta adalah seorang majelis jemaat.

Tak satu pun jadwal pelayanan yang pernah ia abaikan. Ketika lonceng gereja berbunyi, ia telah siap mengenakan pakaian hitamnya. Ketika ada keluarga berduka, dialah yang pertama datang. Ketika ada warga jemaat yang sakit, dialah yang membawa doa. Ketika ibadah sektor dimulai, ia selalu hadir sebelum yang lain. Namun, setiap kali melangkah keluar rumah, ada dua pasang mata kecil yang memandangnya dari balik jendela.

“Ma… cepat pulang ya…”

Marta hanya tersenyum.

Ia mengecup dahi kedua anaknya, lalu berkata pelan,

“Tuhan ada di rumah ini sebelum Mama kembali.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi Samuel dan Debora, itulah pelukan yang menemani kesunyian.

Malam-malam panjang menjadi sahabat mereka.

Samuel belajar memasak nasi dengan panci yang mulai menghitam.

Debora menunggu kakaknya selesai menggoreng ikan kecil yang kadang terlalu asin, kadang terlalu gosong.

Sesudah makan, mereka duduk di depan pintu rumah.

Mereka menghitung bintang.

Mereka menunggu langkah kaki ibunya pulang.

Kadang angin membawa suara nyanyian jemaat dari gereja.

Kadang hanya debur ombak yang menjawab kerinduan.

Di dalam gereja, Marta melayani dengan hati yang penuh kasih.

Tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui bahwa di balik senyumnya, ia selalu menyelipkan doa yang sama.

“Tuhan… jagalah anak-anakku sampai aku kembali.”

Setiap pelayanan baginya adalah sebuah penyerahan.

Bukan karena ia tidak mencintai anak-anaknya.

Justru karena ia mencintai mereka, ia percaya bahwa tangan Tuhan lebih panjang daripada pelukannya sendiri.

Waktu terus berjalan. Samuel tumbuh menjadi remaja yang tenang.

Debora menjelma menjadi gadis kecil yang murah senyum. Mereka tidak pernah menyalahkan ibunya. Mereka justru belajar memahami bahwa pelayanan bukanlah sesuatu yang merampas kasih, melainkan cara kasih itu dibagikan.

Suatu Minggu sore, cuaca tidak bersahabat, seakan badai besar akan datang. Langit menghitam. Angin menerbangkan daun-daun. Listrik padam. Saat itu Marta sedang memimpin ibadah keluarga di ujung kampung. Hujan turun begitu deras. Di rumah, Samuel memeluk adiknya yang ketakutan. Rumah kecil mereka berguncang diterpa angin. Debora berbisik, “Kak… Mama belum pulang…” Samuel menggenggam tangan adiknya. “Jangan takut. Mama selalu bilang Tuhan lebih dulu ada di rumah.” Mereka berlutut. Di tengah suara hujan yang memukul atap seng, kedua anak itu mulai berdoa.

Tidak panjang. Tidak indah. Hanya sederhana. “Tuhan Yesus… jaga Mama… dan tetap tinggal bersama kami.” Pada saat yang hampir bersamaan, di rumah ibadah kecil tempat Marta melayani, seorang nenek tiba-tiba jatuh pingsan. Marta segera menolong. Bersama warga jemaat, ia menggendong nenek itu menuju kendaraan untuk dibawa ke puskesmas. Hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Namun, wajahnya tetap tenang. Baginya, melayani adalah cara mengasihi Kristus. Malam semakin larut. Badai mulai reda. Ketika Marta tiba di rumah, ia mendapati pintu tidak terkunci. Lampu minyak masih menyala redup. Samuel dan Debora tertidur di lantai, masih saling berpegangan tangan. Di samping mereka terbuka sebuah Alkitab. Di halaman yang terbuka tertulis: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.”

(Yesaya 41:10).

Marta terduduk.

Air matanya jatuh satu demi satu. Bukan karena lelah.Bukan karena takut.

Tetapi karena ia menyadari sesuatu yang selama ini sering ia doakan.

Selama bertahun-tahun ia mengira sedang meninggalkan anak-anaknya demi pelayanan.

Padahal…

Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Tuhanlah yang selama ini menjadi Ayah ketika ia tak mampu menjadi ayah. Tuhanlah yang memeluk ketika pelukannya terlambat tiba. Tuhanlah yang menyalakan pelita iman di hati kedua anaknya ketika rumah itu hanya diterangi lampu minyak yang hampir padam. Marta memeluk kedua anaknya. Samuel terbangun dan berkata lirih, “Mama… kami tidak pernah sendirian.”

Kalimat itu menghantam seluruh ruang hatinya.

Malam itu Marta menangis untuk pertama kalinya bukan karena kehilangan suaminya.

Ia menangis karena melihat kesetiaan Allah yang diam-diam bertumbuh di dalam hati anak-anaknya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Marta telah beruban, Samuel menjadi seorang penatua yang dikenal bijaksana. Debora mengabdikan hidupnya sebagai guru sekolah minggu yang mengasihi setiap anak seperti adiknya sendiri.

Pada suatu ibadah syukur jemaat, seseorang bertanya kepada mereka,

“Apa rahasia ibu kalian sehingga kalian tetap bertumbuh dalam iman, meskipun dibesarkan dalam banyak kekurangan?”

Samuel tersenyum. Debora menggenggam Alkitab tua milik ibunya. Lalu mereka menjawab hampir bersamaan, “Kami memang sering ditinggal Mama untuk melayani. Tetapi kami tidak pernah merasa ditinggalkan. Sebab setiap kali Mama pergi melayani Tuhan, Tuhan datang menjaga kami.” Di sudut gereja, Marta menundukkan kepala. Tidak ada tepuk tangan yang lebih indah daripada kesaksian itu. Tidak ada penghargaan pelayanan yang lebih mulia daripada melihat anak-anaknya mengenal Kristus.

Ia akhirnya memahami bahwa warisan terbesar seorang ibu bukanlah rumah yang megah, bukan pula harta yang melimpah. Warisan terbesar seorang ibu adalah iman yang tetap menyala ketika dirinya telah lelah berjalan. Sebab seorang ibu mungkin hanya mampu menggenggam tangan anaknya beberapa tahun.

Namun, ketika ia mengajarkan anak-anaknya menggenggam tangan Tuhan, mereka akan kuat seumur hidup.

Dan di situlah Marta mengerti bahwa pelayanannya tidak pernah membagi kasih antara gereja dan keluarga.

Kasih itu justru mengalir dari mezbah doa menuju rumah kecilnya, lalu tumbuh menjadi dua kehidupan yang kelak menerangi banyak orang.

Seperti pelita yang tetap menyala meski diterpa angin, demikianlah iman yang ditanam seorang ibu. Tidak selalu tampak gemilang, tidak selalu dipuji manusia, tetapi cahayanya akan tetap hidup di hati anak-anaknya, bahkan ketika sang ibu telah renta. Sebab kasih yang lahir dari Kristus tidak pernah padam; ia menjelma doa, menjadi teladan, lalu bertumbuh menjadi generasi yang terus membawa terang bagi dunia. @hk.id