Jadilah Pribadi yang Jujur

Amsal 11 : 1 – 4

1 Oktober

Kamis

D

i dunia dewasa ini, kejujuran merupakan hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mudah dipercaya. Kita mungkin pernah diperhadapkan dengan situasi seperti ini. Kita mengalami kekurangan dan tiba-tiba kita menemukan barang berharga milik orang lain. Apakah yang menjadi pilihan sikap kita? Sebagai orang percaya kita takut Tuhan dan karena itu kita diajak untuk bersikap jujur. Inilah yang ditekankan dalam teks bacaan hari ini. Kejujuran adalah karakter yang dibentuk dalam kesadaran mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah. Kejujuran adalah juga soal mengakui milik dan mengatakan dengan berani tentang yang buka milik. Hidup orang bijak adalah hidup yang bersesuaian dengan kehendak Tuhan. Menjadi pribadi yang jujur itu adalah kewajiban. Orang jujur hidupnya diberkati Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang jujur sebab dengan kejujuran, kita memperlihatkan kehidupan sebagai orang berhikmat.

Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap jujur, Amin.

Amsal 12 : 24 – 28

2 Oktober

Jumat

Janganlah Malas, Rajinlah Bekerja

P

.erkembangan harga barang dan tuntutan hidup membuat perjalanan kita di saat-saat sekarang menjadi tidak mudah. Kita dituntut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan. Demi kehidupan, kita tidak bisa berpangku tangan. Pekerjaan apa saja akan ditekuni demi kelanjutan hidup. Tetapi kesadaran ini ternyata hanya dimiliki oleh orang yang rajin. Bagi orang malas, mereka hanya mau hidup senang tanpa harus mengeluarkan keringat. Di saat orang lain sementara berjuang memenuhi hidup, mereka justru malah menunjukkan kemalasan. Amsal menggambarkan mereka sebagai orang yang berhati bebal. Adapun karakteristik utama orang bebal adalah orang yang tidak takut Tuhan. Kebebalan membuat mereka tidak mau mendengarkan nasihat. Karakter hidup seperti ini hanya akan membuat mereka mengalami kesusahan. Amsal menyebutkan bahwa bila orang rajin menikmati kesenangan, mereka sebaliknya yaitu kesusahan. Kita tentu tidak mau hidup susah. Karena itu, marilah kita rajin bekerja. Jangan malas, sebab kemalasan hanya akan membuat hidup kita susah. Ingatlah “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga”.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap rajin dalam berusaha, Amin.

Jangan Kerja Baku Harap

Amsal 13 : 4 – 5

3 Oktober

Sabtu

P

ekerjaan adalah panggilan Tuhan dan bila diitekuni dengan kesungguhan hati merupakan wujud pengucapan syukur dan pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Hanya saja terkadang ditemukan pribadi-pribadi yang tidak maksimal melakukannya. Satu bentuk kecendrungan perilaku itu nampak melalui model kerja yang hanya bisa mengharapkan kerja keras orang lain atau yang dikenal dengan istilah “kerja baku harap”.. Gaya hidup macam ini dikritik oleh teks kita hari ini. Sebagai kitab pengajaran hikmat, Amsal menekankan pentingnya tidak bermalas-malasan sebab mengakibatkan kesia-siaan. Bila kita menginginkan sesuatu, kita harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan bukan atas dasar “baku harap”. Selagi sesuatu hal bisa kita kerjakan, kita harus bisa melakukannya sendiri tanpa harus menunggu. Hikmat dari Tuhan menolong kita memahami betul apa yang harus kita kerjakan. Benar, kita perlu kerjasama sebab semua hal tidak bisa kita kerjakan sendiri. Tetapi yang terlebih penting adalah kita harus tahu bahwa jangan membawa kerja baku harap dalam suatu pencapaian tujuan. Kita tidak akan pernah mencapai apapun bila itu menjadi prinsip kerja kita.

Doa: Tuhan Yesus,tolonglah kami untuk rajin bekerja dan tidak kerja baku harap, Amin.

1 Korintus 12: 12 – 31

4 Oktober

Minggu

Pribadi Yang Saling Menghidupkan

T

idak seorangpun yang luput dari kekurangan dalam hidupnya. Mungkin kita punya sesuatu yang lebih, tetapi belum tentu kita merasa cukup. Selebih-lebihnya siapapun, tetap pasti ada sisi kurang. Itu sebabnya kita tidak dapat hidup sendiri.Kehadiran orang lain tetap kita butuhkan. Bagi Paulus, kekurangan atau kelebihan itu adalah bagian dari cara Tuhan menolong kita untuk bisa saling melengkapi. Tuhan mengajarkan kita secara tidak langsung menyadari bahwa dalam kemanusiaan, kita bukan apa-apa. Kita diciptakan demikian rupa agar kita saling menopang. Tuhan mau supaya kita tidak mengandalkan diri sendiri tetapi yang terutama adalah Tuhan. Teladan Tuhan Yesus yang menjadi “Roti Kehidupan” mestinya menolong kita untuk juga hidup sebagai tubuh Kristus yang saling menghidupkan. Sebagai jemaat kita terpanggil untuk saling menghidupkan. Apa yang menjadi kelebihan kita janganlah dipergunakan sebagai sarana untuk saling menjatuhkan. Namun sebaliknya biarlah kelebihan kita menjadi panggilan untuk saling menghidupkan sesama yang membutuhkan. Marilah belajar saling menghidupkan. Jangan menjadi pribadi yang saling mematikan. Ingatlah selalu bahwa kita masing-masing adalah anggota tubuh Kristus.

Doa: Tuhan ajar kami hidup saling menghidupkan, Amin.

Bijaksanalah dalam Hadapi Sekte

5 Oktober

Senin

Wahyu 2 : 12 – 17

T

erkadang kita didatangi kelompok sekte Saksi Yehovah. Adapun sekte ialah kelompok orang-orang Kristen yang sangat menekankan salah satu pokok ajaran Kristen tertentu sambil menolak sesama orang Kristen yang tidak mau menerima ajaran itu. Mereka kemudian hidup terpisah dari masyarakat Kristen sedunia. (AG. no.165). Sekte ini sangat menekankan ajaran tentang eskatologi yaitu tentang hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman, terutama sekitar peristiwa kembalinya Tuhan Yesus pada kali kedua (1914 tapi ditunda 1918). Mereka tidak mempercayai adanya neraka., menolak Trinitas dan kebangkitan Yesus (AG no.184). Ajaran Saksi Yehova bertentangan dengan ajaran gereja kita. Inilah pula yang dikecam oleh teks kita hari ini. Jemaat Pergamus adalah jemaat Kristen yang luar biasa sebab walau dikelilingi oleh banyak kuil berhala, iman mereka akan Tuhan Yesus tidak tergoyahkan. Hanya saja ternyata di dalam jemaat terdapat banyak sekali pengajar sesat. Jemaat diajak penulis agar tidak mudah percaya kepada mereka. Sebaliknya keimanan itu mesti mereka tunjukkan lewat upaya mereka untuk tidak mudah terpengaruh ajaran sesat. Maka marilah kita juga bersikap bijaksana dalam hadapi ajaran sesat.

Doa: ya Tuhan Yesus, tolong kami untuk tidak terpengaruh ajaran sesat ,Amin.

Hidup Saling Menegur dalam Kasih

Wahyu 2 : 18 – 29

6 Oktober

Selasa

T

idak ada keluarga yang sempurna. Tidak ada pula yang selalu benar. Karena itu Tuhan memberikan kasih, bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga mengingatkan kita ketika berjalan menjauh dari kehendak-Nya. Teguran yang lahir dari kasih bukan bertujuan mempermalukan seseorang, melainkan menolongnya kembali kepada jalan yang benar. Kasih sejati berani berkata benar, tetapi tetap dilakukan dengan hati yang lembut. Dalam surat kepada jemaat di Tiatira, Tuhan memuji banyak hal yang baik, tetapi Ia juga tidak membiarkan dosa terus dipelihara. Tuhan menegur karena Ia mengasihi umat-Nya. Ia ingin jemaat bertobat sehingga hidup mereka kembali dipulihkan. Teguran Tuhan bukan tanda penolakan, melainkan bukti bahwa Ia masih memberi kesempatan untuk berubah. Di dalam keluarga dan persekutuan, janganlah kita memilih diam ketika melihat saudara kita sedang jatuh. Tegurlah dengan kasih, doakan dengan setia, dan rangkullah ketika ia ingin kembali. Jemaat yang sehat bukanlah jemaat yang tidak pernah memiliki kesalahan, tetapi jemaat yang mau saling menolong untuk terus bertumbuh di dalam Kristus. Tetaplah hidup saling menegur dalam kasih karena Tuhan telah lebih dahuku melakukannya untuk kita. Tuhan Yesus kiranya selalu memberkati hidup kita.

Doa: ya Tuhan, ajar kami menegur dalam kasih hati kami selalu. Amin.

Wahyu 3 : 1 – 6

7 Oktober

Rabu

Jangan Terlihat Hidup dari Luar tetapi Mati di Dalam

P

enampilan sering kali dapat menipu. Rumah yang tampak indah belum tentu dipenuhi dengan sukacita dan kebenaran. Demikian juga kehidupan rohani. Seseorang dapat terlihat aktif melayani, rajin beribadah, bahkan dikenal baik oleh banyak orang, tetapi hatinya mungkin sedang jauh dari Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi juga keadaan hati setiap orang. Jemaat di Sardis memiliki nama sebagai jemaat yang hidup, tetapi Tuhan berkata bahwa sebenarnya mereka mati secara rohani. Mereka kehilangan semangat mengasihi Tuhan dan berhenti bertumbuh. Karena itu Tuhan memanggil mereka untuk bangun, memperkuat apa yang masih tersisa, dan kembali mengingat firman yang telah mereka terima. Inilah pula yang mesti terjadi dalam kehidupan keimanan kita. Hidup kita mesti menampilkan kasih Tuhan. Pelayanan kita kepada sesama adalah karena kasih Tuhan melimpah kita rasakan dalam hati kita. Kasih yang kita nyatakan adalah bukti iman kita. Marilah kita saling membangun agar iman tidak hanya menjadi kegiatan rutin. Doronglah anggota keluarga untuk tetap berdoa, membaca firman, dan hidup sesuai kehendak Tuhan. Pertumbuhan rohani tidak diukur dari seberapa sibuk kita melayani, tetapi dari seberapa dekat kita hidup bersama Kristus setiap hari.

Doa: Teguhkan kesetiaan kami ya Tuhan, Amin.

Doa: Bangunkan Iman kami ya Tuhan, Amin.

8 Oktober

Kamis

Wahyu 3 : 7 – 13

Berpegang pada Firman Tuhan dan Setia Sekalipun Kecil

S

ering kali kita merasa kecil dan tidak memiliki banyak kemampuan. Kita membandingkan diri dengan orang lain lalu merasa tidak berarti. Kita fokus pada sejumlah kekurangan kita dan terus mengukurnya berdasarkan kelebihan yang dimiliki orang lain. Namun yang harus kita tahu yakni Tuhan tidak pernah mengukur seseorang dari besarnya kekuatan atau banyaknya kemampuan dan kelebihan, melainkan dari kesetiaannya kepada Firman-Nya. Kepada jemaat di Filadelfia, Tuhan berkata bahwa mereka memiliki kekuatan yang kecil atau tidak seberapa, tetapi mereka tetap setia dan tidak menyangkal nama-Nya. Kesetiaan itulah yang berharga di hadapan Tuhan. Tuhan membuka jalan bagi mereka yang tetap percaya sekalipun keadaan tidak mudah. Jangan pernah merasa kecil sehingga berhenti bekerja dan melayani. Tetaplah setia dalam hal-hal sederhana. Keluarga harus tekun berdoa bersama, saling menguatkan, dan hidup menurut firman Tuhan. Itulah cara membangun dasar iman yang kokoh. Tuhan sanggup memakai kesetiaan yang kecil untuk menghasilkan berkat yang besar.

Kisah Para Rasul 2 : 41 – 47

9 Oktober

Jumat

Bersatu dengan Sehati, Tekun, dan Saling Berbagi

G

ereja mula-mula bertumbuh bukan karena mereka memiliki gedung yang megah atau program yang banyak, tetapi karena mereka hidup sebagai keluarga Allah. Mereka belajar firman bersama, berdoa bersama, makan bersama, dan saling menolong ketika ada yang berkekurangan. Kasih menjadi bahasa yang paling nyata di tengah kehidupan mereka. Persatuan mereka bukan berarti tidak pernah memiliki perbedaan, tetapi mereka memilih untuk mengutamakan Kristus daripada kepentingan pribadi. Ketika kasih menjadi dasar kehidupan bersama, setiap orang merasa diterima, diperhatikan, dan dikuatkan. Dari kehidupan seperti itulah Tuhan terus menambahkan orang-orang yang diselamatkan. Keluarga Kristen dipanggil menjadi gambaran kecil dari gereja yang mula-mula. Mulailah dengan hal sederhana, seperti saling mendengar, saling mendoakan, berbagi kepada yang membutuhkan, dan menjaga kebersamaan sekalipun ada dalam pelbagai keperbedaan. Jemaat akan semakin kuat ketika setiap keluarga hidup dalam kasih dan kesatuan.

Doa: Nyalakan kasih kami ya Tuhan, Amin.

10 Oktober

Sabtu

Wahyu 3 : 14 – 22

Jangan Menjadi Suam-Suam Kuku dalam Pelayanan

K

eberhasilan, harta, atau kenyamanan hidup dapat membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan. Tanpa disadari, hati menjadi dingin. Ibadah tetap dijalani, pelayanan tetap dilakukan, tetapi kasih kepada Tuhan mulai memudar. Inilah keadaan yang disebut Tuhan sebagai suam-suam kuku. Jemaat di Laodikia merasa dirinya kaya dan tidak kekurangan apa pun. Namun Tuhan melihat keadaan yang berbeda. Mereka miskin secara rohani karena mengandalkan diri sendiri. Tuhan mengajak mereka bertobat dan membuka kembali pintu hati bagi kehadiran-Nya. Kasih Tuhan tetap tersedia bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya. Mari menjaga agar hati tetap menyala bagi Tuhan. Jangan biarkan kesibukan, keberhasilan, atau kenyamanan membuat kita kehilangan kerinduan untuk hidup dekat dengan Kristus. Jemaat yang terus rendah hati dan bergantung kepada Tuhan akan tetap hidup, bertumbuh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Satukan hati kami ya Tuhan. Amin.

Arti Sebuah Pengorbanan

11 Oktober

Minggu

2 Samuel 24 : 18 – 25

F

irman Tuhan ini mengajarkan kita tentang arti sejati sebuah pengorbanan. Sikap Daud terhadap Arauna memberikan teladan iman yang sangat kuat bagi kita : ibadah dan persembahan kepada Tuhan tidak boleh didasarkan pada sesuatu yang murah, gampang, atau tanpa pengorbanan. Di tengah tantangan kehidupan saat ini, kita sering kali terjebak dalam mentalitas serba instan dan hitung-hitungan dalam memberi. Kisah ini menegur kita sebagai keluarga untuk merefleksikan kembali motif kita dalam melayani dan memberi, baik di dalam gereja maupun di tengah masyarakat. Memberi yang sejati adalah ketika kita rela melepaskan ego, kenyamanan, dan milik kita yang paling berharga demi kemuliaan nama Tuhan dan kebaikan sesama. Kasih yang rela berkorban tidak pernah mencari keuntungan diri sendiri, melainkan bergerak atas dasar ketulusan tanpa pamrih. Mari kita jadikan perenungan ini sebagai landasan hidup dalam membangun kehidupan mesra dengan Allah dan sesama, seturut semangat “hidup orang bersaudara” di bumi Maluku. Ketika kita mampu memberi dengan sukacita dan kerelaan berkorban baik itu waktu, tenaga, maupun materi maka mezbah ucapan syukur yang kita dirikan akan mendatangkan berkat dan pemulihan.

Iman dan Kualitas Hidup Abraham

Kejadian 23 : 1 – 20

12 Oktober

Senin

T

eks ini memperlihatkan integritas hidup seorang beriman mampu menggerakkan hati orang-orang di sekitarnya untuk memberi dengan tulus. Kisah pedih tentang kematian Sara berubah menjadi kesaksian iman yang indah ketika Abraham hendak membeli sebidang tanah dari bangsa Het untuk kuburan istrinya. Kerelaan bangsa Het memberi ini lahir bukan karena sebuah paksaan, melainkan karena mereka melihat langsung kualitas hidup Abraham yang luar biasa, sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai seorang “raja agung di tengah-tengah kami” atau “pemimpin yang diutus Allah, kisah ini memberikan teladan mendalam tentang pentingnya menjaga karakter dan nama baik di tengah masyarakat. Abraham tidak pernah memaksakan kehendaknya atau memanfaatkan statusnya, melainkan selalu bertindak jujur, hormat, dan penuh sopan santun, bahkan saat hatinya sedang hancur karena berduka. Integritas inilah yang memancarkan wibawa rohani, sehingga orang lain dengan sukarela mengulurkan tangan membantu. Kita diajak untuk terus menanam hidup berwibawa melalui kejujuran, ketulusan dan sikap saling menghormati dalam kepelbagaian. Tuhan Yesus menolong kita.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk punya hati yang rela berkorban. Amin.

Ketulusan Menopang Sesama

Yeremia 52 : 31 – 34

13 Oktober

Selasa

C

erita ini mengisahkan titik balik kehidupan Yoyakhin, raja Yehuda, yang dipenjarakan di Babel selama 37 tahun. Perubahan luar biasa terjadi ketika Ewil-Merodakh menjadi raja Babel. Tanpa menuntut jasa atau balasan masa lalu, raja baru ini melepaskan Yoyakhin, berbicara dengan baik kepadanya, dan mengangkat derajatnya lebih tinggi dari raja-raja lain yang ada di Babel. Allah ternyata sering kali memakai orang lain membawa pemulihan dan mengangkat martabat hidup kita dari keterpurukan. Kita dipanggil meneladani ketulusan ini dalam kehidupan sehari-hari. Mengangkat derajat hidup sesama bukan tentang mencari panggung, popularitas, atau mengharapkan keuntungan timbal balik. Ketika kita menolong anggota keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak jemaat, atau merangkul mereka yang tersisih, lakukanlah itu dengan motivasi yang murni. Ketulusan sejati terlihat saat kita rela mengulurkan tangan dan membagikan berkat kepada orang-orang yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita. Angkatlah beban sesama kita, hiduplah saling menopang di dalam jemaat dan menjadi berkat bagi sesama.

14 Oktober

Rabu

Markus 12 : 41 – 44

Hati Tulus Memberi dan Berbagi

M

elalui kisah ini, Yesus mengajak kita melihat esensi sejati dari sebuah pemberian. Di tengah keramaian Bait Allah, banyak orang kaya memberi dari kelimpahan mereka demi pujian atau sekadar kewajiban ritual. Namun, janda miskin ini memberikan dua peser, semua yang dimilikinya untuk hidup. Tuhan tidak pernah menilai besar kecilnya angka yang kita bawa ke tempat persembahan, melainkan ketulusan yang bersumber dari kedalaman hati. Kisah ini menjadi teguran sekaligus penghiburan bahwa persembahan terbaik adalah yang lahir dari kerelaan. Memberi dari kekurangan adalah bukti konkret dari iman yang radikal dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Janda miskin ini mengajar kita untuk tidak menjadi hamba dari kekhawatiran duniawi. Ketika kita memberi dengan tulus sesuai dengan apa yang ada pada kita, kita sedang mengosongkan diri dan mengizinkan kuasa Allah bekerja sepenuhnya untuk mencukupkan. Hidup kita harus mencerminkan sikap ini, di mana kita saling menopang dan berbagi berkat tanpa rasa takut akan kekurangan, sebab kita tahu Dialah sumber segala berkat yang tidak pernah kering. Ketika kita mampu memberi dengan hati yang tulus, kita sedang menyaksikan dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang penuh kasih di dunia ini.

Doa: Tuhan, ajar kami melayani dengan ramah, tulus, dan penuh kasih, amin

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menoang sesama, Amin.

Sukacita Dari Memberi

2 Korintus 8 : 1 – 7

15 Oktober

Kamis

P

aulus mengajak jemaat Korintus membantu orang-orang percaya di Yerusalem yang mengalami kesulitan. Ia mencontohkan jemaat-jemaat di Makedonia yang walaupun menghadapi penderitaan dan hidup kekurangan, tetapi memberi dengan sukacita. Mereka tidak memberi karena memiliki banyak harta, tetapi karena mereka menyerahkan hidup kepada Tuhan. Firman ini memberi pesan bahwa memberi bukan hanya ketika hidup berkecukupan, tetapi juga ketika kita mau berbagi dari apa yang kita miliki. Kita dapat memberi perhatian kepada anggota keluarga yang sedang bergumul, menyediakan waktu mendengarkan, mendoakan mereka yang sakit, membantu tetangga yang membutuhkan, serta mendukung pelayanan gereja dengan hati yang tulus. Ketika orang tua memberi teladan dalam berbagi, anak-anak pun belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada kerelaan menjadi berkat bagi sesama. Keluarga yang memberi dengan sukacita akan bertumbuh dalam kasih, dipelihara oleh Tuhan, dan menjadi kesaksian yang hidup bagi lingkungan di sekitarnya.

Doa: Tuhan, teguhkan iman kami agar tetap rela memberi dalam segala keadaan. Amin.

1 Raja – Raja 17 : 7 – 16

16 Oktober

Jumat

Memberi Dalam Kekurangan; Bukti Iman

S

etiap keluarga pasti pernah menghadapi masa-masa sulit. Penghasilan berkurang, kebutuhan hidup semakin besar, sementara masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, tidak sedikit orang memilih menyimpan apa yang dimiliki karena takut kekurangan. Janda di Sarfat melakukan sebaliknya. Dalam keluarga, sering kali kita merasa sulit berbagi karena khawatir kebutuhan sendiri tidak akan tercukupi. Namun, kisah janda di Sarfat mengingatkan bahwa Tuhan sanggup memelihara orang yang mengutamakan kehendak-Nya. Kerelaan memberi dapat diwujudkan melalui perhatian kepada anggota keluarga, berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan, mendukung pelayanan gereja, atau menyediakan waktu untuk menolong sesama. Ketika keluarga tetap rela memberi di tengah keterbatasan, mereka sedang membuktikan imannya. Allah yang memelihara janda di Sarfat tetap bekerja hingga hari ini. Ia mengenal kebutuhan kita, umat-Nya dan tidak pernah membiarkan orang yang percaya kepada-Nya kekurangan kasih karunia untuk menjalani hidup setiap hari.

Doa: Tuhan, ajari kami untuk tetap memberi walau dalam kekurangan, Amin.

Keramahan Yang Mendatangkan Berkat

2 Raja-Raja 4 : 8 – 17

17 Oktober

Sabtu

D

alam kehidupan ini, kita sering berdoa agar Tuhan menjawab kebutuhan dan pergumulan kita. Namun sebelum Allah menyatakan mukjizat-Nya, Ia terlebih dahulu membentuk hati yang mau mengasihi dan melayani dengan sepenuh. Perempuan Sunem tidak dikenal karena doa-doanya yang panjang, melainkan karena kepekaannya mengenali Elisa sebagai abdi Allah dan keramahannya melayani Abdi Allah itu. Di balik sikap yang tenang, tersimpan kerinduan yang tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun, yaitu keinginan memiliki seorang anak. Namun, Allah melihat apa yang tersembunyi di dalam hati. Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Tuhan menggenapi janji melalui kelahiran seorang anak baginya. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap setiap pelayanan penuh keramahan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan. Karena itu, janganlah jemu melayani dengan ramah. Ketika kita melayani dengan ramah, berkatNya menghampiri tepat waktu. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati maka kerinduan kita diubah-Nya menjadi kenyataan dan kesaksian nyata.

Doa: Tuhan kuatkan keluarga kami menjalani hidup seturut kehendak-Mu selalu amin.

Yesaya 40 : 27 – 31

18 Oktober

Minggu

Allah Menguatkan yang Letih

T

idak semua kelelahan tampak dari luar. Ada orang yang tetap bekerja, melayani, dan tersenyum, tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan. Pergumulan yang berlangsung lama sering membuat seseorang bertanya, “Apakah Tuhan masih memperhatikan hidupku?” Perasaan seperti ini juga dialami oleh bangsa Israel ketika berada dalam pembuangan. Melalui nabi Yesaya, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Allah yang kekal, Pencipta langit dan bumi, yang tidak pernah menjadi lelah dan tidak pernah kehilangan kuasa. Sebaliknya, manusialah yang terbatas sehingga bahkan orang muda pun dapat menjadi lesu dan jatuh. Namun, Allah berjanji memberikan kekuatan kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Orang yang menanti Tuhan akan memperoleh kekuatan baru dalam menghadapi perjalanan hidup. Karenanya jangan pernah berhenti hanya karena pergumulan belum berakhir. Di tengah kelelahan, Tuhan hadir untuk menopang, memulihkan, dan memberi kekuatan baru. Jangan biarkan keputusasaan menguasai hati. Tetaplah berdoa, saling menguatkan, dan berpegang pada firman Tuhan. Kasih-Nya akan memberdayakan keluarga untuk tetap setia menjalani setiap tanggung jawab dan melangkah dengan pengharapan menuju masa depan yang telah Tuhan sediakan.

Doa: Tuhan kuatkan keluarga kami menjalani hidup seturut kehendak-Mu selalu amin.

Berserulah pada Tuhan

Mazmur 28 : 6 – 7

19 Oktober

Senin

T

erkadang beban hidup terasa sangat berat menindih, langkah kaki berat, dan air mata menetes membasahi wajah yang haus pertolongan. Di saat itu mungkin terlihat seolah semua mata tertutup dan semua telinga tidak lagi peka mendengar jeritan minta tolong. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa masih ada Tuhan. Kita dapat datang pada-Nya dalam keheningan kalbu dan menyampaikan setiap keluh kesah. Kesaksian ini terdapat dalam kata-kata Daud. Ia meyakini bahwa dalam kemelut yang teramat sangat besar dan saat ia berserah kepada Tuhan, Daud menyakini sungguh bahwa Tuhan akan mendengar seruannya. Daud menyakini Tuhan adalah kekuatan dan perisai dan karena itu Daud sungguh bersyukur untuk segala kebaikan Tuhan. Kekuatan Tuhan sanggup memulihkan keadaan hati yang hancur bahkan kehidupan yang berat sekalipun. Sebab itu, jangan ragu datanglah pada-Nya dalam seruan. Tuhan mendengar dan akan menjawab semuanya indah dan tepat pada waktuNya.

Doa: Tuhan, Engkaulah kekuatan dan Perisaiku. Aku bersyukur untuk segala kebaikanMu. amin.

Keluaran 15 : 1 – 3

20 Oktober

Selasa

Memuji Tuhan adalah Kerinduan Orang Percaya

A

da begitu banyak cara yang sering digunakan orang untuk mengekspresikan apa yang dirasakan atau yang dialami. Salah satunya ialah melalui nyanyian. Nyanyian dapat digunakan sebagai obat saat seseorang menghadapi pergumulan yang berat. Nyanyian pujian bukan saja dapat menyejukan hati, tetapi juga memampukan kita mengalihkan pandangan dari masalah yang membelenggu kita. Teks ini adalah ekspresi iman Musa dan bangsa Israel yang mengalami kasih Allah yang telah tampil sebagai pahlawan perang dan yang menjadi satu satunya kekuatan serta penyelamat yang melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Musa dan bangsa Israel sungguh–sungguh menjadikan nyanyian pujian mereka sebagai bentuk syukur dan ungkapan sukacita atas mujizat besar yang dilakukan Tuhan. Tuhan menolong sehingga mereka dapat menyeberangi laut Teberau. Tangan Tuhan yang kuat telah menghancurkan musuh–musuh mereka. Kita pun saat ini harus tetap menyanyikan kidung pujian bagi Tuhan karena Tuhan baik, kasih setiaNya melebihi segala sesuatu yang kita impikan dan dambakan. Mari saat ini kita belajar untuk mengubah setiap keluh kesah kita dengan tetap menyanyikan kidung pujian bagi Tuhan. Dengan iman tetap mengakui-Nya sebagai Tuhan yang hadir untuk membawa kebaikan di segala situasi kehidupan.

Doa: Ya Tuhan, Engkaulah keselamatanku, kepadaMu aku berlindung.. amin.

Ulangan 31 : 1 – 8

21 Oktober

Rabu

Janji Tuhan Adalah Kekuatan Yang Meneguhkan Hati

H

ari esok bagi semua kita adalah rahasia, karena itu tidak ada satupun diantara kita tahu apa yang akan terjadi di kurun waktu yang akan kita jelang. Tidak sedikit yang kemudian mengalami kekuatiran. Namun kita harus percaya Tuhan sudah lebih dulu berjalan didepan kita, Tuhan yang menjadikan kita, Tuhan kenal siapa kita dan oleh karena itu jalan yang akan kita telusuri telah dibukakan-Nya bagi kita. Dari teks hari ini kita belajar bahwa kekuatan kita bukan terletak pada siapa yang kelak akan memimpin, karena kempemimpinan manusia itu ada masanya. Musa tampil dan menguatkan bangsa Israel bahwa kemenangan demi kemenangan yang mereka raih adalah atas kepemimpinan Tuhan, Tuhan sendiri yang berjalan didepan mereka untuk memusnahkan semua bangsa, serta memberikan kelepasan dan kemenangan bagi mereka. Karenanya, jangan takut menghadapi hari esok sebab Tuhan ada berjalan didepan kita. Janji penyertaan-Nya adalah sauh yang kuat dan meneguhkan hati serta jiwa kita.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami tetap teguh memegang janjiMu. amin.

22 Oktober

Kamis

Tawarikh 16 : 7 – 13

Perbuatan Tangan Tuhan Ajaib, Carilah WajahNya

B

ersyukur adalah cara kita mengakui otoritas dan kedaulatan Tuhan.Lihatlah betapa banyak dan tak terhitung dalam memori kehidupan kita. Betapa tuntunan dan penyertaan-Nya telah menghentar kita melewati kehidupan sampai pada waktu ini. Sukacita besar kita alami ketika dalam segala situasi hidup baik itu menyenangkan ataukah dalam kesusahan kita tetap berseyukur, memuji Tuhan dan menceritakan perbuatan ajaib-Nya sebab hanya dengan demikian kita akan menemukan sukacita dan kebahagiaan sejati. Ketahuilah bahwa Tuhan menghendaki kita memiliki hubungan yang sungguh-sungguh tulus dengan-Nya,. Tuhan tidak menginginkan adanya hubungan sesaat karena menginginkan berkat jabatan, kesembuhan atau jawaban doa yang lain. Raja Daud menyerukan hal ini bagi Asaf dan saudara- saudaranya agar memimpin umat Israel menaikkan puji-pujian kepada Tuhan karena perbuatan tangan Tuhan menuntun sehingga Tabut Perjanjian berhasil dipindahkan ke Yerusalem. Perbuatan ajaib Tuhan ini harus diceritakan agar semua umat mengingat perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan. Jangan pernah melupakan perbuatan ajaib Tuhan, kenanglah itu, ceritakanlah perbuatan ajaibNya bagi keluarga dan semua yang kita jumpai. Katakan bagi diri kita dan kepada semua orang : carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu. Mari jadikan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup.

Doa: ya Tuhan, ajari aku tetap percaya pada-Mu, amin.

23 Oktober

Jumat

2 Korintus 12 : 9a

Duri dalam Daging dan Kasih Karunia yang Cukup

K

ehidupan rasul Paulus tidak luput dari penderitaan. Ia menyebut pengalamannya sebagai “duri dalam daging” sebuah simbol dari kelemahan, keterbatasan, atau pergumulan berat yang terus-menerus ia rasakan. Paulus bahkan tiga kali memohon kepada Tuhan agar duri itu disingkirkan darinya. Namun, jawaban Tuhan melampaui logika manusia: duri itu tidak dicabut, tetapi kasih karunia Tuhan diberikan untuk memampukannya bertahan.Seringkali kita merasa minder, putus asa, atau tidak layak saat menghadapi keterbatasan. Padahal, Tuhan sering memakai titik-titik terlemah dalam hidup kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya, sehingga yang terlihat bukan kehebatan kita, melainkan kehebatan kuasa-Nya. Tuhan tidak selalu langsung mengubah atau menghapus masalah kita. Namun, Dia berjanji memberikan kasih karunia yang tepat dan cukup pada waktunya untuk menguatkan langkah kita hari demi hari. Dengan menyadari keterbatasan diri, kita belajar untuk sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, bukan pada kekuatan atau kepandaian kita sendiri. Bila hidup terasa berat atau melemahkan, alih-alih tawar hati, pandanglah itu sebagai tempat di mana kuasa Tuhan rindu bekerja secara luar biasa dalam hidup.

Doa: ya Tuhan, ajari aku tetap percaya walau ada duri dalam hidupku, amin.

Mazmur 59 : 17 – 18

37

24 Oktober

Sabtu

Kekuatan Di Tengah Tekanan

M

azmur ini ditulis Daud ketika ia berada dalam situasi yang sangat mencekam Namun, Daud tidak membiarkan rasa takut melumpuhkan imannya. Sebaliknya, ia mengalihkan pandangannya dari masalah kepada siapa Allah bagi dirinya. Daud memilih untuk bermazmur, memuji kekuatan Tuhan, dan bersorak-sorai karena kasih setia-Nya. Saat menghadapi kesesakan atau pergumulan hidup, reaksi alami manusia adalah mengeluh atau tawar hati. Namun, Daud memberi teladan untuk mengambil keputusan iman: memuji Tuhan dan menaikkan syukur di tengah situasi yang sulit.. Ia memandang Tuhan sebagai “kota benteng” dan “tempat perlindungan” yang kokoh, tempat ia aman dari segala marabahaya. Pemeliharaan Tuhan selalu baru setiap pagi. Kasih setia-Nya tidak pernah gagal, bahkan di malam-malam tergelap dalam hidup kita. Apakah Anda sedang menghadapi “kesesakan” atau tekanan yang membuat hati terasa berat?. Mari, arahkan hati, akui kelemahan dan naikkan pujian kepada Allah karena Allah adalah sumber kekuatan kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami kuat ditengah tekanan hidup. Amin

Harapan di Tengah Badai

25 Oktober

Minggu

Kisah Para Rasul 27 : 14 – 26

P

erjalanan laut Paulus menuju Roma berubah menjadi mimpi buruk ketika badai besar bernama Euroklidon menerjang kapal mereka. Namun, di tengah kepanikan massal itu, Paulus berdiri dengan tenang. Ia tidak ikut panik, melainkan membawa berita pengharapan dari Tuhan yang meneguhkan semua orang di kapal tersebut. Badai kehidupan bisa menerjang siapa saja, termasuk orang-orang yang sedang melakukan kehendak Tuhan seperti Paulus. Masalah, krisis, atau penderitaan bukanlah tanda Tuhan meninggalkan kita, tetapi seringkali menjadi medan kuasa-Nya dinyatakan. Ketenangan Paulus di tengah badai bukanlah karena ia kebal masalah, melainkan karena ia memiliki relasi yang erat dengan Allah. Ia mendengarkan suara-Nya dan percaya penuh pada janji-Nya. Paulus tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi ia juga menguatkan orang-orang di sekitarnya yang putus asa. Di tengah badai hidup kita, Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi, mewartakan kasih dan penyertaan Allah kepada mereka yang ketakutan. Badai bisa saja datang dalam pekerjaan, keluarga, atau pelayanan dan membuat kita merasa kehilangan arah. Ingatlah pesan malaikat kepada Paulus: “Jangan takut!” Allah yang menyertai Paulus adalah Allah yang sama, yang memegang kendali atas badai hidup kita.

Doa: ya Tuhan Yesus, kuatkan iman dan harapan kami, Amin.

26 Oktober

Senin

Markus 4 : 35 – 42

Dalam Dekapan KasihNya

K

isah ini menceritakan perjalanan murid-murid bersama Yesus menyeberangi danau. Tiba-tiba, badai besar dan taufan menerjang hingga ombak menyembur masuk ke dalam perahu, membuat perahu hampir penuh dengan air. Yang membuat situasi semakin menegangkan adalah Yesus sedang tertidur di buritan. Seringkali dalam menghadapi badai persoalan hidup baik itu masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, maupun pelayanan, kita merasa seolah-olah Tuhan sedang “tidur” dan tidak peduli. Padahal, fakta terpentingnya adalah Yesus ada di dalam perahu yang sama dengan kita. Kehadiran-Nya menjamin bahwa kita tidak berjalan sendirian. Saat badai menerjang, pandangan para murid tertuju sepenuhnya kepada ombak yang besar dan perahu yang hampir tenggelam, sehingga mereka melupakan siapa yang sedang bersama mereka. Rasa takut membuat mereka lupa akan kuasa dan penyertaan Tuhan. Yesus tidak menegur badai terlebih dahulu, melainkan Ia menegur ketakutan para murid. Yesus rindu agar di tengah situasi yang menakutkan sekalipun, murid-murid-Nya memiliki iman yang teguh percaya bahwa bersama Kristus, tidak ada badai yang terlalu besar untuk dikendalikan-Nya.

Doa: Tuhan ajar kami untuk beriman pada-Mu ketika menghadapi badai hidupAmin.

27 Oktober

Selasa

Yesaya 41 : 8 – 10

ilipi 4: 4-9

Janji Penyertaan di Tengah Keterbatasan

M

elalui kitab Yesaya, Tuhan menyapa umat-Nya yang seringkali merasa kecil, lemah, dan rentan di tengah dunia yang penuh tantangan. Tuhan memanggil mereka sebagai “hamba-Ku” dan keturunan Abraham yang dikasihi-Nya. Di dalam ayat ini, Tuhan tidak sekadar memberikan janji dari jauh; Ia menegaskan komitmen-Nya yang sangat personal: Ia menyertai, meneguhkan, menolong, dan memegang kita. Tuhan mengingatkan siapa diri kita di mata-Nya, kita adalah orang yang dikasihi-Nya. Kesadaran ini menepis segala rasa minder atau keraguan ketika kita merasa tidak sanggup menghadapi masalah hidup. Ketakutan dan kebimbangan adalah senjata utama yang sering meruntuhkan iman kita. Namun, Tuhan dengan tegas melarang kita takut, bukan karena masalahnya kecil, tetapi karena Allah kita jauh lebih besar daripada setiap persoalan yang kita hadapi. Puncak dari janji penyertaan Tuhan adalah tangan kanan-Nya yang memegang dan menopang kita. Tangan kanan dalam Alkitab menyimbolkan kekuatan dan kekuasaan mutlak. Penyertaan-Nya bukanlah penyertaan yang pasif, melainkan penyertaan yang aktif membela dan membawa kita kepada kemenangan.

Doa: Tuhan, kuatkan dengan janji dalam kelemahan kami. Amin

1 Korintus 10 : 11 – 13

28 Oktober

Rabu

Allah Selalu Menyediakan Jalan Keluar Di Tengah Pencobaan

S

etiap keluarga pasti menghadapi berbagai pergumulan hidup. ketidakadilan, kegagalan, persoalan ekonomi, penyakit, atau rasa tidak mampu sering datang silih berganti. Berbagai persoalan itu dapat membuat seseorang merasa lelah, putus asa, bahkan seolah berada di jalan buntu tanpa harapan. Dalam keadaan seperti itu, sering muncul pertanyaan, apakah Tuhan masih peduli? Lewat teks kita belajar bahwa Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk belajar dari pengalaman umat Israel dan tetap setia kepada Allah ketika menghadapi pencobaan. Paulus menegaskan bahwa pencobaan merupakan bagian dari kehidupan orang percaya, tetapi Allah tetap setia. Ia tidak membiarkan umat-Nya dicobai melampaui kekuatan yang dikaruniakan-Nya. Bahkan, Allah selalu menyediakan jalan keluar agar setiap orang mampu bertahan. Inilah bukti kasih Allah yang tidak berkesudahan. Karena itu, setiap kita diajak untuk tidak menyerah, melainkan tetap berharap kepada Tuhan yang senantiasa menyertai, menguatkan, dan membuka jalan menurut kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, berilah jalan keluar bagi kami di tengah berbagai persaoalan hidup. Amin

Mazmur 107 : 23 – 32

29 Oktober

Kamis

Di Tengah Ombak Dan Badai Hidup, Allah Mendengar Seruan

H

idup tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat ketika seseorang diperhadapkan pada persoalan yang datang silih berganti, bagaikan badai yang mengguncang perahu di tengah lautan. Masalah keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit, maupun ketidakpastian masa depan sering kali menimbulkan rasa takut dan kehilangan harapan. Mazmur 107:23-32 menggambarkan pengalaman para pelaut yang diterpa badai dahsyat hingga kehilangan kendali atas perahu. Dalam keputusasaan, mereka berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan meredakan badai dan menuntun mereka tiba di pelabuhan dengan selamat. Melalui pengalaman itu, pemazmur mengajak umat memuji Tuhan karena kasih setia-Nya yang tidak berkesudahan. Demikian pula dalam setiap pergumulan hidup, Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya. Karena itu, tetaplah berseru kepada Tuhan dan percayalah kepada penyertaan-Nya, sebab kasih-Nya sanggup menguatkan hati dan menuntun setiap langkah melewati badai kehidupan.

Doa: terima kasih Tuhan, mau mendengarkan seruan kami di tengah badai hidup . Amin.

Mazmur 138 : 1 – 8

30 Oktober

Jumat

Tuhan Akan Menyelesaikan Segalanya Dan Tidak Meninggalkan Kita

T

idak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kesesakan. Namun, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat ketika beban terasa begitu berat, harapan mulai memudar, dan jalan yang ditempuh seolah dipenuhi berbagai rintangan. Dalam keadaan seperti itu, hati mudah diliputi rasa cemas dan putus asa. Teks ini mengajarkan bahwa di tengah kesesakan, Daud tetap memuji Tuhan karena percaya kepada kasih dan kesetiaan-Nya. Ia yakin bahwa Tuhan mendengar setiap seruannya, menguatkan jiwanya, dan tetap bekerja dalam hidupnya. Daud juga mengakui bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan pekerjaan tangan-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi pengharapan bagi setiap keluarga. Walaupun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah, Tuhan tetap hadir menyertai dan menyempurnakan rencana-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesesakan menghilangkan iman. Tetaplah berharap kepada Tuhan. Dia akan menyelesaikan segalanya sebab kasih-Nya tidak pernah berkesudahan dan Dia tidak pernah meninggalkan orang yang percaya kepada-Nya.

Doa: Tuhan, kami percaya Engkau menyelesaikan segalanya, Amin.

Hidup Oleh Anugerah Allah

Roma 1 : 16 – 17

31 Oktober

Sabtu

S

etiap orang tentu menginginkan kehidupan yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Namun, tidak seorang pun dapat memperoleh keselamatan atau hidup benar hanya karena kekuatan dan usahanya sendiri. Teks hari ini menegaskan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih karunia-Nya kepada manusia. Anugerah itu diberikan bukan karena manusia layak menerimanya, melainkan karena kasih Allah yang begitu besar. Oleh sebab itu, hidup sebagai orang percaya bukanlah hasil dari jasa atau kemampuan sendiri, melainkan anugerah Allah yang diterima dengan iman. Paulus juga menegaskan bahwa di dalam Injil nyata kebenaran Allah yang dinyatakan dari iman kepada iman. Karena itu, orang benar dipanggil untuk hidup oleh iman, dengan terus mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Anugerah Allah bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memperbarui cara hidup setiap orang percaya agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Sebab itu, di hari Reformasi ini kita diingatkan, hiduplah setiap hari dengan penuh syukur, karena anugerah Allah selalu cukup untuk menopang, membimbing, dan menguatkan setiap langkah kehidupan kita.

Doa: Tuhan, terma kasih karena kami hidup oleh anugerah-Mu. Amin.

TEDUH DI AKHIR SANTAPAN

T

anpa terasa, kita telah tiba di penghujung bulan Oktober. Hari demi hari telah kita lalui dengan berbagai cerita. Ada sukacita yang membuat kita tersenyum, ada pergumulan yang mungkin masih tersimpan dalam hati, ada doa yang telah dijawab, tetapi mungkin juga ada doa yang sampai hari ini masih kita nantikan jawabannya. Namun, di tengah seluruh perjalanan itu, satu hal tetap dapat kita syukuri: kasih Allah tidak pernah berkesudahan.

Bulan ini kita tidak hanya berhadapan dengan perjalanan hidup pribadi dan keluarga. Alam di sekitar kita pun seakan sedang berbicara. Cuaca yang terasa semakin ekstrem, panas yang berkepanjangan, tanah yang mengering, sumber-sumber air yang mulai berkurang, bahkan kebakaran hutan yang terjadi di berbagai tempat mengingatkan kita bahwa kehidupan ini rapuh dan saling terhubung. Ketika tanah menjadi kering, bukan hanya tumbuhan yang merasakan akibatnya. Manusia dan seluruh ciptaan ikut menanggungnya. Di tengah keadaan seperti ini, tema bulan “Gereja Mewartakan Kasih Allah yang Tidak Berkesudahan” mengajak kita bertanya lebih dalam: Bagaimanakah kasih Allah itu telah kita alami sepanjang bulan ini? Dan bagaimana kasih yang telah kita terima itu kita wartakan kepada sesama dan seluruh ciptaan? Kasih Allah yang tidak berkesudahan seharusnya mengalir melalui kehidupan kita.

Barangkali selama bulan ini ada saat ketika hati kita sendiri terasa seperti tanah yang kering. Kita lelah. Kita kecewa. Kita takut terhadap hari esok. Kita merasa doa-doa kita belum menemukan jawaban. Tetapi firman Tuhan mengingatkan kita: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22–23)

Luangkanlah waktu saudara untuk bersaat teduh dengan mengikuti beberapa langkah ini:

  1. Tenanglah dan berdoa!
    Tariklah diri sejenak dari kesibukan. Sadari bahwa Tuhan hadir bersama saudara saat ini.
  2. Ingatlah perjalanan saudara sepanjang bulan Oktober!

Ingatlah satu peristiwa ketika saudara sungguh merasakan bahwa kasih dan penyertaan Tuhan tidak pernah meninggalkan saudara.

  1. Bacalah nas Alkitab: Yesaya 40:27-31

Bacalah perlahan-lahan dan renungkanlah di tengah berbagai keadaan yang terjadi bulan ini, apakah yang dapat saudara lakukan sebagai wujud nyata mewartakan kasih Allah kepada manusia dan seluruh ciptaan?

Tulislah satu kalimat syukur dan satu komitmen saudara:

Aku bersyukur kepada Tuhan karena:

………………………………………………………………………………………………..

Sebagai wujud kasih Allah, aku akan:

……………………………………………………………………………………………….

  1. Berdoalah!
    Bersyukurlah atas penyertaan Tuhan sepanjang bulan Oktober. Doakanlah keluarga, gereja, mereka yang mengalami kesulitan karena kekeringan dan kebakaran, bencana alam, serta seluruh ciptaan yang sedang terluka. Mohonlah agar Tuhan memakai kehidupan kita menjadi saluran kasih-Nya.