Kostor Gereja: Pelayan yang Menambal Hati dan Menyiapkan Rumah Tuhan

Suatu hari setelah mengikuti ibadah malam di sebuah gereja, saya pulang dengan hati yang penuh sukacita. Sebelum meninggalkan gereja, saya melihat seorang bapak yang masih sibuk menyapu halaman, merapikan kursi-kursi, mematikan lampu, dan memastikan setiap pintu gereja telah terkunci dengan baik. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Ketika sebagian besar jemaat telah berkumpul bersama keluarga mereka di rumah, bapak itu masih setia menyelesaikan pekerjaannya seorang diri. Beliau adalah kostor gereja, seorang pelayan yang mungkin jarang diperhatikan, tetapi selalu hadir di balik setiap ibadah yang berjalan dengan baik.

Beberapa hari kemudian, saya kembali datang ke gereja lebih awal untuk menghadiri suatu persekutuan. Saat memasuki halaman gereja, semuanya sudah tampak bersih dan rapi. Ruang ibadah telah dipersiapkan, mimbar telah dibersihkan, pengeras suara telah siap digunakan, dan bunga-bunga di depan altar tertata dengan indah. Saya kembali melihat Bapak kostor itu berjalan ke sana ke mari memastikan tidak ada satu pun yang terlewat. Ia bekerja tanpa banyak bicara dan tanpa menunggu pujian dari siapa pun. Baginya, rumah Tuhan harus selalu siap menyambut setiap orang yang datang beribadah.

Di tengah kesibukannya, saya menghampirinya dan berkata, “Pak, pekerjaan Bapak pasti sangat melelahkan. Hampir setiap hari datang paling awal dan pulang paling akhir.” Beliau hanya tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya. Dengan rendah hati ia menjawab, “Kalau rumah Tuhan bersih dan jemaat bisa beribadah dengan nyaman, saya sudah merasa bersyukur. Tidak semua orang berkhotbah di mimbar, tetapi setiap orang bisa melayani Tuhan sesuai bagian yang dipercayakan-Nya.”

Jawaban sederhana itu membuat saya terdiam. Selama ini saya sering mengagumi pendeta yang berkhotbah, paduan suara yang bernyanyi indah, atau majelis yang memimpin ibadah. Namun saya jarang menyadari bahwa semua pelayanan itu tidak akan berjalan dengan baik tanpa kehadiran seorang kostor yang mempersiapkan semuanya dengan setia. Seperti halnya seorang tukang tambal ban yang baru kita cari ketika ban kendaraan bocor, demikian pula seorang kostor sering kali baru disadari pentingnya ketika ia tidak ada. Ketika gereja tidak dibersihkan, kursi tidak ditata, listrik bermasalah, atau perlengkapan ibadah tidak tersedia, barulah semua orang menyadari betapa berharganya pelayanan yang selama ini dianggap sederhana.

Sejak saat itu saya belajar bahwa pelayanan di gereja bukanlah tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling setia. Tuhan tidak mengukur pelayanan dari seberapa besar sorotan yang diterima seseorang, tetapi dari kesetiaan hati dalam mengerjakan tugas yang dipercayakan-Nya. Seorang kostor mungkin tidak berdiri di mimbar untuk berkhotbah, tetapi melalui sapunya ia sedang mempersiapkan tempat agar banyak orang dapat berjumpa dengan Tuhan. Melalui tangannya yang membuka pintu gereja, ia sedang membuka jalan agar jemaat datang beribadah. Melalui ketekunannya menjaga rumah Tuhan, ia sedang melayani Kristus sendiri.

Pelayanan seorang kostor mengingatkan kita pada teladan Yesus Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yesus rela membasuh kaki murid-murid-Nya sebagai tanda bahwa tidak ada pelayanan yang terlalu rendah apabila dilakukan dengan kasih. Demikian pula seorang kostor mengajarkan bahwa pekerjaan yang tampak sederhana dapat menjadi pelayanan yang sangat mulia apabila dilakukan dengan hati yang tulus bagi kemuliaan Tuhan.

Kiranya setiap kita belajar menghargai semua bentuk pelayanan di gereja. Jangan hanya memberikan penghormatan kepada mereka yang tampil di depan, tetapi juga kepada mereka yang bekerja dalam diam. Sebab di hadapan Tuhan tidak ada pelayanan yang kecil. Setiap tugas, sekecil apa pun, apabila dilakukan dengan kasih dan kesetiaan, akan menjadi persembahan yang harum di hadapan-Nya.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Pesan Renungan:

Sering kali kita mengagumi mereka yang terlihat di mimbar, tetapi Tuhan juga memakai mereka yang setia bekerja di balik layar. Seorang kostor mungkin tidak berkhotbah dengan kata-kata, tetapi ia berkhotbah melalui kesetiaan, kerendahan hati, dan pengorbanannya. Gereja yang hidup bukan hanya dibangun oleh mereka yang memimpin ibadah, tetapi juga oleh mereka yang dengan setia mempersiapkan rumah Tuhan agar menjadi tempat di mana setiap orang dapat mengalami kasih Kristus. …@hk