“Syukur yang Menjadi Langkah”

Terinspirasi dari pesan gembala HUT GPM ke-91

Bersyukur dan Tekunlah Beriman dengan Takut akan Allah

Ada sebuah keluarga kecil yang tinggal di sebuah kampung di Maluku. Mereka bukan keluarga yang memiliki banyak harta. Rumah mereka sederhana, kehidupan mereka pun berjalan apa adanya. Tetapi setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, mereka memiliki satu kebiasaan: bersyukur kepada Tuhan.

Ayah, Ibu, dan anak-anak berkumpul sejenak.

“Terima kasih Tuhan untuk hari yang baru. Ajarlah kami bukan hanya pandai mengucap syukur, tetapi juga tekun melakukan kehendak-Mu.”

Doa itu sederhana. Namun perlahan-lahan, doa tersebut mengubah cara mereka menjalani kehidupan.

Suatu Hari Mereka Mendengar Pesan Penting

Pada suatu ibadah, mereka mendengar pesan tentang perjalanan 91 tahun Gereja Protestan Maluku (GPM).

Mereka diingatkan bahwa ulang tahun gereja bukan sekadar kesempatan untuk merayakan usia yang panjang. Usia 91 tahun adalah kesempatan untuk membaca kembali sejarah kasih karunia Allah, mensyukuri penyertaan-Nya, dan melihat kembali panggilan gereja di tengah zaman yang terus berubah.

Ayah berkata kepada keluarganya,

“Kalau kita sungguh bersyukur kepada Tuhan, rasa syukur itu harus kelihatan dalam kehidupan kita.”

Anak sulung bertanya,

“Seperti apa, Ayah?”

Ayah menjawab,

Syukur bukan hanya kata-kata. Syukur harus menjadi tindakan.

Mereka pun mulai belajar bahwa iman yang hidup bukan hanya terlihat ketika berada di dalam gedung gereja, tetapi juga ketika berada di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan masyarakat, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan pertolongan.

Dari Syukur Menjadi Pelayanan

Keesokan harinya, keluarga itu melihat seorang tetangga yang sudah lanjut usia sedang kesulitan membawa barang.

Tanpa diminta, anak-anak membantu membawakan barang tersebut.

Ibu tersenyum.

“Itulah syukur yang menjadi tindakan.”

Mereka kemudian semakin sering melakukan hal-hal kecil: mengunjungi orang sakit, membantu keluarga yang kesusahan, berbagi makanan, mendengarkan mereka yang sedang menghadapi pergumulan, dan menyapa mereka yang sering merasa sendirian.

Mereka menyadari bahwa Tuhan memanggil umat-Nya untuk melayani, mengasihi, memulihkan, membebaskan, membacakan kabar baik, dan memberdayakan sesama serta seluruh ciptaan.

Ketika Anak-Anak Mulai Bertanya

Suatu malam, anak-anak bertanya,

“Kenapa kita harus membantu orang lain? Bukankah kita sendiri juga tidak punya banyak?”

Ayah membuka Alkitab dan berkata,

“Karena segala sesuatu yang kita miliki sebenarnya adalah titipan Tuhan. Kita bukan pemilik mutlak. Kita adalah orang yang dipercaya untuk mengelolanya.”

Ia mengingatkan keluarganya pada panggilan untuk menjadi penatalayan yang baik dan bertanggung jawab atas kasih karunia Allah yang dipercayakan kepada gereja.

Anak-anak mulai mengerti.

Ternyata menjadi berkat tidak selalu berarti memberikan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang cukup dengan waktu, tenaga, perhatian, makanan, senyuman, atau kesediaan mendengarkan.

Mereka Belajar Mendengarkan yang Lemah

Beberapa waktu kemudian, keluarga itu bertemu dengan seorang anak yang hidup dalam keluarga yang sedang mengalami kesulitan.

Anak mereka mengajaknya bermain.

“Kenapa kamu tidak pernah membawa bekal?” tanya mereka.

Anak itu hanya tersenyum malu.

Sejak hari itu, mereka mulai berbagi bekal.

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mereka ceritakan kepada orang lain.

Mereka hanya melakukan apa yang mereka yakini benar.

Keluarga itu semakin memahami bahwa gereja dipanggil untuk mendengarkan jeritan mereka yang lemah dan miskin, korban ketidakadilan, korban bencana alam, keluarga yang rapuh, serta mereka yang hidup dalam lingkungan yang rusak.

Menjaga Ciptaan Tuhan

Suatu hari, mereka melihat asap mengepul dari sebuah lahan.

Ada orang yang membakar hutan untuk membuka lahan.

Ayah berkata,

“Anak-anak, kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Apa yang kita lakukan terhadap alam juga berdampak kepada kehidupan orang lain.”

Mereka kemudian belajar menjaga lingkungan: tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pembakaran sembarangan, menanam pohon, dan menjaga lingkungan sekitar rumah.

Mereka sadar bahwa kepedulian kepada sesama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup adalah bagian dari kesaksian iman. Pesan Gembala juga mengingatkan tentang cuaca panas dan kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan serta pentingnya menghindari pola pembukaan lahan dengan cara membakar.

Keluarga Menjadi Tempat Pertama untuk Bertumbuh

Namun, perubahan terbesar justru terjadi di rumah mereka.

Ayah dan Ibu mulai menyadari bahwa gereja yang kuat harus dimulai dari keluarga yang kuat.

Mereka membiasakan diri makan bersama, membaca Alkitab, berdoa, dan berbicara tentang persoalan yang dihadapi anak-anak.

Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan cepat.

Tetapi mereka belajar untuk saling mendengarkan dan saling menguatkan.

Mereka juga mulai memberi perhatian lebih kepada anak-anak dan generasi muda karena mereka sadar bahwa generasi muda sedang bertumbuh di tengah perubahan budaya dan teknologi yang sangat cepat.

Tidak Selalu Mudah untuk Tetap Setia

Suatu ketika, Ayah mengalami kegagalan dalam pekerjaannya.

Ia kecewa.

Malam itu ia duduk sendirian.

“Aku sudah berusaha. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi?”

Ibu datang dan duduk di sampingnya.

“Kita memang tidak selalu memahami jalan Tuhan. Tetapi bukankah kita sudah belajar bahwa takut akan Allah berarti tetap percaya dan melakukan yang benar sekalipun keadaan tidak mudah?

Ayah terdiam.

Ia kemudian mengingat kembali perjalanan keluarganya.

Mereka telah melewati banyak hal.

Ada masa sulit. Ada kehilangan. Ada kegagalan. Ada doa yang belum terjawab.

Tetapi selalu ada satu hal yang tetap:

Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.

Syukur Tidak Menghapus Masalah, Tetapi Mengubah Cara Kita Menghadapinya

Pagi berikutnya, Ayah bangun dengan hati yang berbeda.

Masalahnya belum selesai.

Tetapi ia berkata,

“Tuhan, aku tetap bersyukur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi aku percaya Engkau memegang hari esok.”

Ia kembali bekerja.

Ia kembali melayani.

Ia kembali melakukan yang terbaik.

Karena ia memahami bahwa takut akan Allah bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan, taat mengikuti kehendak-Nya, dan tekun mengerjakan panggilan pelayanan.

Suatu Hari Anak Itu Bertanya

“Papa, apa arti ulang tahun gereja yang ke-91 bagi kita?”

Ayah tersenyum.

“Artinya kita tidak hanya boleh berkata, ‘Tuhan sudah baik kepada kita selama 91 tahun.’ Kita juga harus bertanya, ‘Apa yang akan kita lakukan sebagai jawaban atas kebaikan Tuhan itu?’

Anaknya mengangguk.

“Jadi kita harus terus melayani?”

“Ya.”

“Mengasihi?”

“Ya.”

“Menolong orang yang lemah?”

“Ya.”

“Menjaga lingkungan?”

“Ya.”

“Menjaga keluarga?”

“Ya.”

Ayah kemudian berkata,

“Dan yang paling penting, kita harus tetap takut akan Tuhan dan tekun melakukan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Akhirnya Mereka Memahami

Pada hari ulang tahun GPM yang ke-91, keluarga itu kembali berkumpul.

Mereka tidak hanya membawa makanan untuk dinikmati bersama.

Mereka juga membawa sesuatu yang jauh lebih penting:

komitmen.

Komitmen untuk hidup dalam rasa syukur.

Komitmen untuk tekun melayani.

Komitmen untuk menjaga keluarga.

Komitmen untuk mendampingi generasi muda.

Komitmen untuk peduli kepada mereka yang lemah dan menderita.

Komitmen untuk menjaga ciptaan Tuhan.

Komitmen untuk membangun perdamaian dan kerukunan.

Dan komitmen untuk menjadi penatalayan yang bertanggung jawab atas segala berkat yang Tuhan percayakan.

Mereka akhirnya memahami bahwa 91 tahun bukan sekadar angka.

Itu adalah perjalanan panjang kasih karunia Tuhan.

Dan perjalanan itu belum selesai.

Pesan yang Mereka Bawa Pulang

Malam itu, sebelum tidur, anak bungsu berkata:

“Papa, sekarang saya mengerti.”

“Apa yang kamu mengerti?”

Bersyukur itu bukan hanya mengatakan terima kasih kepada Tuhan. Bersyukur berarti hidup kita menjadi jawaban atas kasih Tuhan.

Ayah memeluknya.

“Benar, Nak.”

Kemudian seluruh keluarga berdoa.

“Tuhan, kami bersyukur untuk kasih dan penyertaan-Mu. Ajarlah kami untuk hidup dengan takut akan Engkau. Jadikan rasa syukur kami sebagai tenaga untuk melayani, mengasihi, menjaga keluarga, memperhatikan mereka yang lemah, merawat ciptaan-Mu, dan membangun perdamaian. Tolonglah kami agar tetap setia dan tekun menjalankan panggilan kami.”

Dan mereka menutup doa dengan satu keyakinan:

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

(1 Korintus 3:6)

Sebab manusia boleh menanam dan melayani dengan setia, tetapi pertumbuhan dan hasil akhirnya tetap berada di tangan Tuhan.

Itulah arti sesungguhnya dari:
“Bersyukur dan Tekunlah Beriman dengan Takut akan Allah.”

Penulis @hk