LILIN DI MALAM NATAL

Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk lembut lembaran-lembaran seng yang menjadi pelindung sederhana bagi mimpi-mimpi di bawahnya yang sudah tampak kusam di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Jalanan tanah yang membelah desa berubah menjadi becek, namun suara hujan yang ritmis justru membawa ketenangan tersendiri. Di salah satu sudut desa itu berdirilah sebuah rumah kayu sederhana, dengan jendela tua yang kacanya sedikit berembun. Di dalam rumah yang hangat itu, seorang gadis bernama Shora duduk sendirian di dekat meja kayu yang sudah lama menemani hidupnya. Dengan gerakan pelan, ia menyalakan sebatang lilin kecil satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan malam itu. Cahaya lilin itu bergetar lembut, seolah menari mengikuti irama angin yang merayap dari celah-celah dinding rumah. Bayangan-bayangan bergerak di tembok, seperti ingin menghiburnya, menghapus sejenak rasa lelah yang menumpuk di hatinya. Natal tinggal beberapa hari lagi. Biasanya, waktu-waktu seperti ini membawa kegembiraan bagi Shora. Namun tahun ini terasa berbeda. Terasa berat. Pekerjaannya belum menunjukkan hasil yang diharapkan; beberapa rencana hidupnya justru berantakan. Apa yang sudah ia upayakan dengan sungguh-sungguh seolah belum memberi jawaban apa pun.

Di tengah keheningan yang ditemani hujan, Shora menunduk, merasakan dadanya sedikit sesak. “Tuhan, aku ingin semuanya kembali normal,” pikirnya lirih. Normal seperti dulu ketika hidup terasa jelas arah dan tujuannya, ketika ia tidak harus terus-menerus khawatir tentang masa depan. Ada sebagian dari dirinya yang berharap Tuhan mengubah keadaan secepat mungkin. Sambil memandangi lilin yang nyalanya kecil tapi gigih mempertahankan cahaya, Shora teringat satu nasihat yang pernah ia dengar dari seseorang yang ia hormati: “Ketika hidup tidak searah dengan apa yang kita pikirkan, belajarlah untuk menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan.” Kalimat itu menggema dalam benaknya, lebih kuat dari suara hujan. Shora menarik napas panjang, seolah mencoba membuka ruang dalam hatinya untuk memahami pesan itu. Selama ini, ia menyadari bahwa dirinya terlalu sibuk mengejar banyak hal pekerjaan yang sempurna, pengakuan dari orang lain, dan keinginan-keinginan duniawi yang tidak pernah habis. Ia mengejar semua itu tanpa jeda, hingga lupa bahwa hidup tidak harus selalu berlimpah untuk bisa bermakna. Ia lupa bahwa Tuhan tidak selalu bekerja melalui kejadian-kejadian besar; sering kali, Dia hadir dalam hal-hal yang kecil, sederhana, bahkan dalam proses yang lambat dan tak terlihat. Seperti lilin kecil di hadapannya ini tidak besar, tidak mencolok, tetapi mampu menerangi seluruh ruangan.

Dalam keheningan itu, perlahan-lahan Shora mulai menyadari sesuatu, bahwa mungkin Tuhan sedang menuntunnya bukan untuk mendapatkan lebih banyak, tetapi untuk memahami lebih dalam. Bukan untuk memiliki segalanya, tetapi untuk belajar melihat anugerah dalam hal yang sedikit. Bahwa mungkin tahun yang berat ini bukan hukuman, melainkan undangan untuk kembali pada hidup yang ugahari – hidup yang sederhana, jujur, penuh syukur, dan tidak tergesa-gesa. Bahwa mungkin Tuhan sedang mengajarinya ugahari – hidup sederhana, bersyukur atas apa yang ada, tidak tergesa-gesa, dan tidak memaksakan kehendak. Ia melihat lilin yang menyala di depannya. Lilin itu kecil, tidak terang seperti lampu listrik, namun cukup untuk menerangi sudut ruangan.

“Begitulah Tuhan bekerja,” pikir Shora. “Tidak selalu besar dan cepat, tapi selalu tepat.” Ia mengingat firman:

“Apa yang Tuhan tetapkan tak mungkin tertukar.”

Dan hatinya yang gelisah perlahan menjadi damai. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, bukan situasinya, melainkan caranya memandang hidup. Natal semakin dekat, dan dalam kesunyian yang lembut itu, Shora merasakan keinginan baru tumbuh di hatinya: keinginan untuk menyambut Natal bukan dengan kesibukan yang melelahkan, tetapi dengan kesederhanaan yang membawa keteduhan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memutuskan untuk tidak mengejar kesempurnaan. Tidak ada daftar-dekorasi yang harus dibeli, tidak ada makanan istimewa yang harus dipersiapkan. Ia merapikan rumah ala kadarnya, mengelap meja kayu yang sudah menua, menata beberapa ranting pinus di sudut ruangan. Ia membuat kue sederhana dari bahan yang tersisa di dapur – tepung, gula, dan sedikit mentega. Aromanya mungkin tidak semewah kue-kue Natal di toko besar, tetapi baginya, itu sudah cukup. Semua itu dilakukan bukan untuk memamerkan apa pun, melainkan sebagai ungkapan syukur dari hati yang mulai tenang.

Shora merasa ringan. Rasanya seperti beban yang selama ini menempel di pundaknya perlahan-lahan lepas satu per satu. Ia menyadari bahwa kemewahan tidak pernah menjadi inti dari Natal. Natal adalah tentang hadirnya terang bagi hati yang letih, bukan tentang kemilau lampu di luar rumah; tentang kehangatan relasi, bukan tentang kemegahan perayaan.

Malam Natal pun tiba. Udara terasa sejuk, dengan angin malam membawa wangi tanah yang basah sisa hujan sore. Shora kembali menyalakan lilin kecil di mejanya lilin yang sama yang menemaninya saat ia meresapi keheningan beberapa hari sebelumnya. Cahaya lilin itu menyala lembut, bergetar halus, namun kali ini terasa jauh lebih hangat. Seolah ruangan kecil itu dipenuhi dengan kehadiran yang tak terlihat tetapi sangat nyata.

Bukan lilinnya yang berubah – bentuk dan cahayanya masih sama.

Yang berubah adalah dirinya.

Hati yang dulu penuh kecemasan kini dipenuhi penerimaan. Mata yang dulu hanya melihat kekurangan, kini mampu melihat berkat dalam hal-hal kecil. Ruangan yang dulu terasa sunyi kini terasa penuh kedamaian.

Shora tersenum. Senyum yang tulus, yang muncul dari rasa syukur yang semakin dalam. Ia menatap nyala lilin itu lama, seakan melihat refleksi perjalanan batinnya sendiri perjalanan dari kegelisahan menuju kelegaan, dari tuntutan menuju kesederhanaan, dari kelelahan menuju damai yang Tuhan berikan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shora merasakan bahwa dirinya benar-benar siap menyambut Natal. Bukan karena semua hal telah sempurna, tetapi karena hatinya telah menemukan kembali makna sebenarnya: bahwa Tuhan hadir tidak hanya di tempat megah, tetapi juga di rumah kayu yang sederhana; tidak hanya dalam pesta besar, tetapi juga dalam hati yang mau berserah.

Shora tersenyum.

Ia menyadari bahwa Natal bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa besar kita membuka hati untuk Tuhan bekerja di tengah kesederhanaan.

Ia berbisik dalam doa,

“Terima kasih Tuhan, untuk rencana-Mu yang selalu tepat, meski sering tak cepat.”

Di luar, langit tampak cerah.

Dan di dalam rumah kecil itu, ugahari, kesederhanaan yang penuh syukur, menjadi hadiah Natal terbaik bagi Shora. @hartapel.hk.id

Cerita ini disusun sebagai karya inspiratif. Nama tokoh, tempat, dan peristiwa yang disebutkan bersifat fiktif dan tidak merujuk pada individu atau lokasi sebenarnya. Jika ada kesamaan nama atau kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan semata.