Yesus yang Terutama

Lukas 9 : 59 – 60

1 April

Rabu

H

idup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan memprioritaskan Tuhan di atas semua kepentingan apapun.

Doa: Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan, Amin.

Lukas 9 : 61 – 62

37

2 April

Kamis

Pegang Janji untuk Tuhan

P

erjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol. Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Doa: ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu, Amin.

Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup

Yohanes 19 : 28 – 30

3 April

Jumat

S

emua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia. Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.

Doa: YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.

Yohanes 19 : 38 – 42

4 April

Sabtu

Kasih akan Dia yang Tersalib

A

lkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus. Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.

Doa: Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Kel. 12 : 24 – 28; 1 Kor. 15 : 1 – 11

ilipi 4: 4-9

5 April

Minggu

S

iapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan.

Doa: Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

6 April

Senin

1 Korintus 15 : 12 -19

B

ayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa: Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

1 Korintus 15 : 23 – 31

7 April

Selasa

K

ematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa: Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

8 April

Rabu

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

1 Korintus 15 : 35 – 49

T

ubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga, Amin.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

1 Korintus 15 : 50 – 58

9 April

Kamis

K

ebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

10 April

Jumat

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Yohanes 11 : 17 – 32

P

ernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa: Tuhan, beri kami kekuatan dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Yohanes 11 : 33 – 44

11 April

Sabtu

K

isah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa: Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

Kisah Para Rasul 18 : 1 – 8

12 April

Minggu

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil

K

etika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Kisah Para Rasul 18 : 18 – 23

13 April

Senin

A

quila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Kisah Para Rasul 21 : 15 – 16

14 April

Selasa

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

P

ekerjaan apapun dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin.

Peduli dan Saling Membantu

1 Timotius 5 : 13 – 16

15 April

Rabu

D

alam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.

Kisah Para Rasul 20 : 7 – 12

16 April

Kamis

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

D

alam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap” saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat. Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa: Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Memperhatikan Sanak Saudara

1 Timotius 5 : 3 – 8

17 April

Jumat

D

alam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara, amin

Kisah Para Rasul 21 : 7 – 9

18 April

Sabtu

Keluarga yang Saling Mendukung

D

alam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.

Kokohkan Keluarga, Sejahterakan Sesama

Nehemia 5 : 1 – 13

19 April

Minggu

K

risis dalam kisah di Nehemia 5 ini bermula dari rumah tangga yang terhimpit hutang dan kelaparan, yang kemudian memicu konflik sosial lebih luas. Nehemia menyadari bahwa pembangunan fisik menjadi sia-sia jika keluarga-keluarga Yahudi hancur secara internal. Ketidakadilan terjadi ketika yang kuat mengeksploitasi yang lemah demi keuntungan pribadi. Nehemia hadir bukan hanya sebagai gubernur, tetapi sebagai bapak yang memulihkan tatanan keluarga. Ia menyerukan penghentian riba dan pengembalian tanah agar setiap keluarga memiliki martabat dan sumber penghidupan kembali. Nehemia mengajarkan bahwa kesejahteraan bersama dimulai ketika kita berhenti mementingkan diri sendiri dan mulai peduli pada keberlangsungan hidup saudara kita. Mengokohkan keluarga berarti membangun manajemen ekonomi keluarga yang sehat dan berkeadilan. Keluarga harus menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai kejujuran, saling menopang dan pola hidup ugahari dipraktikkan. Jangan biarkan gaya hidup konsumtif atau keserakahan merusak relasi persaudaraan. Saat keluarga kita diberkati, tujuannya bukan untuk menimbun kekayaan, melainkan menjadi saluran berkat bagi keluarga lain yang kekurangan. Gereja yang kuat adalah gereja yang terdiri dari keluarga-keluarga yang saling peduli, memastikan bahwa semua anak dan sesama mendapatkan hak hidup yang layak.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami menjadi saluran berkat bagi banyak orang, Amin.

Amsal 10 : 4 – 5

20 April

Senin

Kerja Keras Berbuah Sejahtera

S

etiap orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya makan dengan cukup, sekolah dengan baik, dan tinggal di rumah yang nyaman. Namun, impian itu tidak akan pernah terwujud tanpa kerja keras. Kesejahteraan keluarga dimulai dari kemauan untuk bergerak dan berusaha. Amsal 10:4-5 menekankan bahwa jika ingin hidup sejahtera maka harus rajin. Tangan yang malas hanya akan membawa kekurangan. Namun ada waktu untuk bekerja keras mencari nafkah, dan ada waktu untuk “mengumpulkan” kebersamaan dengan keluarga. Orang yang bijak bukan cuma rajin cari uang, tapi rajin menjaga keutuhan rumah tangganya. Oleh sebab itu, sebagai umat kita mesti ingat bahwa kerja keras adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata kepada keluarga. Saat kita rajin bekerja, dampaknya bukan hanya soal uang di dompet, tapi soal ketenangan di dalam rumah dimana Kebutuhan keluarga terpenuhi dan orangtua menjadi teladan. Anak-anak yang melihat orang tuanya rajin akan belajar bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan dikeluhkan. Mari kita buang rasa malas, karena kemalasan adalah pencuri kebahagiaan keluarga. Ingatlah, setiap lelah yang kita rasakan saat bekerja keras akan dibayar Tuhan dengan kesejahteraan yang dinikmati bersama seluruh isi rumah.

Doa: Tuhan, berkatilah kerja keras dan keutuhan keluarga kami, amin

Lawan Kemalasan Dengan Kerja Keras

Amsal 24 : 30 – 34

21 April

Selasa

P

ernahkah bapak, ibu, saudara sekalian melihat kebun yang tidak terurus?. Rumput liarnya tinggi, pagarnya miring, dan hasilnya pun tidak ada. Itulah gambaran kemiskinan yang seringkali bukan datang karena kurangnya kesempatan, melainkan karena hilangnya tanggung jawab dan etos kerja dalam keluarga. Amsal 24:30-34 menggambarkan seseorang yang kehilangan kesejateraan karena sikap menunda: “Tidur sedikit lagi, mengantuk sedikit lagi. Hingga kemiskinan menyerbunya.” Tanggung jawab dan kerja keras sesungguhnya adalah pagar pelindung agar kemiskinan tidak datang. Keluarga yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan waktu terbuang sia-sia. Ayah, ibu, dan anak-anak harus memiliki semangat yang sama untuk menuntaskan setiap tugas dengan jujur, meskipun tanpa pengawasan. Jika setiap anggota keluarga sadar akan perannya dan menolak mentalitas malas, maka kemiskinan tidak akan punya celah untuk tumbuh. Kerja keras yang dilakukan bersama-sama akan menciptakan ketahanan ekonomi dan martabat keluarga yang mulia di hadapan Tuhan dan manusia. Karenanya, jangan biarkan kemalasan meruntuhkan rumah tangga kita. Bekerjalah dengan setia dan rajin agar kesejateraan melimpah dalam rumah tangga kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk bekerja keras demi kesejahteraan keluarga dan kemuliaan NamaMu, amin

Amsal 14 : 23

22 April

Rabu

Kerja Nyata keluarga, Berkat Nyata bagi sesama

D

ua saudara melihat nenek tetangga kesulitan membawa air. Yang satu berkata, “Kasihan ya,” lalu pergi. Yang lain diam-diam mengangkat air untuk nenek itu setiap sore. Siapa yang sungguh hidup dalam firman Tuhan? Yang bekerja. Amsal ini sederhana tapi tajam: “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan.” Firman Tuhan menegur kebiasaan yang sering terjadi dalam keluarga banyak rencana, banyak bicara, tapi sedikit tindakan. Tema kita menekankan gereja rumah tangga yang kokoh dan bermisi. Itu berarti rumah bukan hanya tempat berdiskusi tentang kasih, tetapi tempat kasih itu dikerjakan. Kesejahteraan bersama dalam keluarga tidak lahir dari kata-kata belaka, melainkan dari kerja nyata: orang tua setia bekerja, anak-anak belajar tanggung jawab, keluarga mau melayani sesama. Pelayanan sosial pun dimulai dari rumah, dengan melatih hati peka, tangan siap menolong, dan kaki mau melangkah. Keluarga yang berjerih lelah bersama akan bertumbuh kuat, diberkati, dan menjadi saluran berkat.

Doa : Tuhan, mampukan keluarga kami setia bekerja, saling menolong, dan menjadi berkat. Amin.

Memuliakan Pencipta Melalui Kasih kepada Sesama

Amsal 14 : 31

23 April

Kamis

P

ernahkah kita berpikir bahwa sikap kita kepada orang kecil sebenarnya adalah cerminan sikap kita kepada Tuhan? Seringkali kita rajin beribadah, namun lupa bahwa “ibadah” yang sesungguhnya juga terjadi di luar gedung gereja, saat kita bertemu dengan mereka yang terpinggirkan. Amsal 14:31 menegaskan: “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia, sehebat atau seahli apa pun mereka, diciptakan oleh Tangan yang sama. Saat kita meremehkan orang lemah, kita sedang “menampar” wajah Allah yang membentuk mereka. Sebaliknya, melayani orang miskin dengan kasih bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk penyembahan yang nyata kepada Tuhan, bentuk kita memuliakan Allah. Di tengah dunia yang cenderung menghargai orang karena jabatan atau kekayaannya, mari kita tampil beda. Jangan biarkan ada penindasan dalam bentuk apa pun, baik verbal ataupun non verbal di lingkungan keluarga kita maupun ketika bersama orang lain. Jadikanlah setiap uluran tangan kita sebagai cara untuk memuliakan Tuhan. Ingatlah, saat kita memanusiakan manusia, di situlah kita sedang memuliakan Allah.

Doa: Tuhan ingatkan kami untuk memuliakan namaMu melalui tindakan baik kepada sesama, amin

Iman yang Bekerja di Rumah

2 Tesalonika 3 : 6 -12

24 April

Jumat

S

eperti pelita yang harus diisi minyak agar tetap menyala, iman keluarga perlu “diisi” melalui kerja, tanggung jawab, dan pelayanan nyata. Rasul Paulus menegur jemaat yang terbiasa banyak bicara, tetapi enggan bekerja. Ia menegaskan bahwa hidup beriman bukan soal kata-kata rohani saja, melainkan kesediaan berjerih lelah dengan tertib. Prinsip ini sangat kuat untuk gereja rumah tangga. Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya berdiskusi tentang kasih, pelayanan, dan kepedulian sosial, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata. Orang tua bekerja dengan jujur dan penuh rasa tanggung jawab, anak belajar dengan tekun, dan setiap anggota rumah hidup saling membantu. Dari rumah yang rajin, lahir kesejahteraan bersama bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga damai, saling menghargai, dan rasa peduli. Saat keluarga setia dalam hal-hal yang kecil, mereka sedang bermisi: menjadi kesaksian melalui pelayanan sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, dan menunjukkan bahwa iman kepada Kristus menghasilkan kerja nyata. Gereja rumah tangga yang kokoh adalah keluarga yang tidak malas, tetapi giat, tertib, dan setia melakukan kehendak Tuhan setiap hari.

Doa Tuhan, kuatkan keluarga kami untuk setia bekerja dan saling melayani. Amin

Keinginan Tanpa Tindakan

Amsal 21 : 25 – 26

25 April

Sabtu

D

i era modern ini, kita sering terjebak dalam budaya ingin cepat kaya atau mencari kenyamanan tanpa perjuangan. Dalam bacaan hari ini Amsal berkata bahwa orang malas dibunuh oleh keinginannya sendiri. Mengapa? Karena si pemalas memiliki segudang keinginan, tetapi tangannya enggan bekerja. Keinginan itu tidak salah, tetapi tanpa tindakan, keinginan hanya menjadi mimpi kosong. Semakin besar impian seseorang tanpa dibarengi kerja keras, semakin besar rasa frustrasi, irihati dan kepahitan yang muncul dalam dirinya. Berbeda dengan orang benar yang bekerja keras bukan hanya untuk menimbun tetapi mau memberi, karena hidupnya diisi kerja yang setia dan hati yang peduli. Dalam gereja rumah tangga, kita sering rindu keluarga sejahtera, anak-anak diberkati, dan hidup cukup. Kuncinya hanya satu: jangan malas. Kemalasan bukan hanya soal tidur seharian, tidak mau kerja, tapi juga soal menunda-nunda tanggungjawab yang seharusnya diselesaikan sekarang. Hidup yang berkelimpahan tidak ditemukan dalam tumpukan keinginan yang tidak terlaksana, melainkan dalam ketekunan tangan yang bekerja dan ketulusan hati yang memberi.

Doa Tuhan, ajari kami untuk tidak hanya punya banyak keinginan, tapi bekerja keras untuk mewujudkannya. Amin.

Doa Tuhan, tolong kami rajin bekerja, setia melayani, dan mau berbagi, agar keluarga kami menjadi berkat. Amin.

Matius 8 : 5 – 13

Iman yang Bekerja Melalui Kasih

26 April

Minggu

S

eorang perwira yang memiliki pangkat dan kekuasaan datang kepada Yesus bukan untuk dirinya, tetapi untuk hambanya yang sedang sakit. Sebagai pemimpin, ia menunjukkan kerendahan hati serta kepeduliannya mencari bantuan demi kesembuhan bawahannya. Hanya dengan bermodalkan percaya satu perkataan Tuhan Yesus. Iman seperti ini penting untuk membangun gereja rumah tangga yang sehat rohani dan nyata dalam kasih. Keluarga adalah ladang misi pertama. Saat saling mendoakan, memperhatikan, dan menolong sesama, pelayanan sosial dimulai. Iman tidak berhenti pada doa, tetapi bergerak dalam tindakan. Seperti seorang ibu sederhana yang rutin memasak untuk tetangga lansia yang sakit. Ia berkata, “Saya tidak bisa menyembuhkan, tapi saya bisa peduli.” Itulah iman yang bekerja melalui kasih. Mungkin kita tak mampu melakukan hal besar, tetapi perhatian kecil dari hati yang peduli dapat menjadi berkat dan kesembuhan bagi orang lain. Inilah wujud gereja rumah tangga yang hidup dan bermisi melalui kasih.

Doa Tuhan, sehatkan keluarga kami dan jadikan kami saluran berkat. Amin.

Doa Tuhan Yesus, kuatkan iman kami dan jadikan keluarga kami saluran kasih-Mu. Amin.

Manis Yang Cukup

Amsal 25 : 16

27 April

Senin

S

eperti teh hangat dengan satu sendok madu akan terasa nikmat, bila dibandingkan dengan satu teh hangat dengan satu gelas penuh madu justru tidak bisa diminum. Madu memang manis dan menyehatkan, tetapi firman Tuhan mengingatkan: jika berlebihan, justru mendatangkan mual. Begitu juga dalam kehidupan keluarga Kristen. Tuhan rindu gereja rumah tangga sehat jasmani dan rohani di mana ada kasih, perhatian, kerja, pelayanan, dan waktu bersama. Semuanya perlu diatur secara baik dan seimbang. Terlalu sibuk bekerja bisa membuat keluarga “kekurangan madu” berupa kebersamaan. Sebaliknya, terlalu santai tanpa tanggung jawab juga tidak sehat. Dalam pelayanan sosial pun demikian. Melayani itu indah, tapi jangan sampai pelayanan di luar rumah membuat lupa melayani orang terdekat. Orang terkasih kita dalam keluarga yang harus pertama mendapatkan kasih dan pelayanan. Anak-anak akan belajar mengasihi saat melihat orang tuanya hidup penuh kasih. Hidup rumah tangga yang penuh kasih membuat keluarga dapat menjadi alat kesaksian yang manis bagi sesama. Cukup, tidak berlebihan tapi membawa kebaiikan.

Doa: Tuhan, kami mau hidup dalam keluarga dengan penuh kasih yang manis, Amin.

2 Raja-raja 20 : 1 – 11

28 April

Selasa

Jawaban Tuhan Yang Memulihkan

H

Hizkia adalah raja yang takut akan Tuhan, namun ia menghadapi masalah bertubi-tubi. Kota Yerusalem dikepung musuh, dan di saat yang sama ia menderita sakit keras. Nabi Yesaya menyampaikan bahwa ia akan mati. Mendengar hal itu, Hizkia berpaling kepada Tuhan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dalam situasi yang terasa buntu dan memojokkan, ia tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan berserah melalui doa. Tuhan mendengar seruannya dan memberikan jawaban atas pergumulannya. Dari kisah ini kita belajar bahwa ketika persoalan datang silih berganti, bahkan ancaman sakit dan bahaya mengintai, langkah terbaik adalah membawa semuanya kepada Tuhan. Doa yang dinaikkan dengan iman membuka ruang bagi kuasa Tuhan bekerja. Pergumulan Hizkia dijawab, ia diberi kesembuhan dan tambahan usia yang baginya tidak boleh disia-siakan. Ia semakin giat berkarya. Ini mau mengajarkan kita semua untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, tetap teguh dalam iman, serta yakin bahwa Tuhan menyediakan jalan keluar tanpa harus selalu meminta tanda atas jawaban doa kita.Maka sama seperti Hizkia, ketika jawaban doa didengar dan dipulihkan Tuhan, teruslah berkarya dan jadilah berkat, alat kesaksian bagi banyak orang.

Doa Tuhan, kepadaMu saja kami sekeluarga mau berserah, Amin.

Kuasa di Balik Kepercayaan

Matius 17 : 14 – 18

29 April

Rabu

D

alam kehidupan, tidak semua peristiwa dapat dijelaskan secara rasional. Ada situasi yang melampaui akal dan menuntut kedewasaan iman untuk menghadapinya. Kisah orang tua yang anaknya menderita penyakit ayan menunjukkan hal tersebut. Berbagai usaha telah dilakukan, bahkan meminta pertolongan murid-murid Yesus, tetapi anaknya tidak dapat di sembuhkan. Di tengah kekecewaan itu, orang tua tersebut tetap percaya kepada kuasa Yesus. Iman yang teguh mendorongnya memohon belas kasihan Tuhan agar anaknya dibebaskan dari kuasa yang tidak terlihat. Iman inilah yang membuka jalan bagi terjadinya penyembuhan dan pemulihan. Seringkali kita merasa gagal dalam menghadapi “badai” hidup, bukan karena kita kurang pintar atau krang berusaha, tetapi karena kita kurang melibatkan Tuhan secara sungguh-sungguh. Iman bukan sekedar percaya Tuhan ada, tetapi ercaya Tuhan mampu dan mau bertindak. Apakah hari ini kita sedang menghadapi masalah yang membuat kita merasa gagal? Sudahkah kita membawanya langsung ke kaki Yesus dengan iman yang penuh? Percayalah kuasa Tuhan dan datanglah pada-Nya.

Doa: Tuhan, kami percaya, kuasaMu ada untuk menyelesaikan semua masalah kami Amin.

30 April

Kamis

Amsal 23 : 19 – 21

Mendengar, Mengikuti dan Menjaga Diri

M

enjadi bijak itu mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya, sebab kepintaran tanpa ketaatan seringkali justru menjauhkan kita dari jalan yang benar. Demikian nasehat ayahku sewaktu beliau masih hidup. Dalam nas hari ini, kita mendapatkan pula nasehat yang sama. Nas ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman akrab. Jika kita terus-menerus bergaul dengan orang yang hanya mengejar kesenangan duniawi (seperti “peminum dan pelahap”), perlahan tapi pasti gaya hidup mereka akan menular kepada kita. Ya, lingkungan pergaulan kadangkala ikut menentukan perilaku seseorang, jika tidak bisa menjaga diri. Sebab itu, kita dinasehati agar dapat menjaga dan mengendalikan diri. Jangan mau bersikap lebih. Sikap berlebih-lebihan, baik dalam makan, minum, maupun kemalasan, ujungnya adalah kehancuran. “Kantuk” atau rasa malas membuat kita kehilangan kesempatan dan masa depan. Firman Tuhan ini mengingatkan kita agar hidup dengan teratur dan disiplin. bukan karena mau membatasi kesenangan kita, tapi karena ingin melindungi kita dari kemiskinan dan penyesalan. Mari kita renungkan, apakah teman-teman sepergaulan membawa kita semakin dekat dengan Tuhan atau justru sebaliknya? Dan bagian mana dalam hidup kita yang masih sulit untuk dikendalikan: apakah makan, belanja, emosi, atau waktu tidur?

Doa: Tuhan, tolong aku supaya bisa menjaga diri dan memilih lingkungan yang membangun imanku. Amin.

TEDUH DI AKHIR SANTAPAN

D

i penghujung bulan April ini, marilah kita merenungkan bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa iman yang dikenang setiap tahun. Paskah merupakan sumber kekuatan yang terus memperbarui kehidupan, memberdayakan setiap gereja rumahtangga untuk hidup semakin beriman, saling menguatkan dalam kasih, serta membangun kesejahteraan yang utuh di tengah realitas zaman yang tidak mudah.

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini ada banyak keluarga sementara menghadapi kesulitan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan dunia yang masih diliputi berbagai konflik dan peperangan. Di tengah situasi ini, iman kepada Kristus yang bangkit harus tetap teguh. Tuhan memampukan keluarga-keluarga yang percaya kepadaNya untuk tetap setia, bekerja dengan pengharapan, saling menolong dalam pelayanan kasih, dan menjadi tanda damai serta harapan bagi sesama di tengah dunia yang terluka. Karena itu keutuhan rumah tangga menjadi sangat penting untuk dijaga. Suami, istri, orang tua, dan anak-anak belajar saling menopang, saling mengampuni, serta berjalan bersama dalam kasih yang berakar pada iman kepada Tuhan. Doa harus menjadi dasar yang kuat yang mempersatukan hati keluarga, meneguhkan langkah di tengah kekhawatiran hidup, dan mengingatkan bahwa Tuhan tetap memimpin perjalanan hidup umat-Nya, sehingga dengan hati yang diteguhkan oleh kebangkitan Kristus, setiap keluarga percaya dapat melangkah memasuki bulan Mei dengan iman yang lebih teguh, harapan yang tetap menyala, serta komitmen untuk hidup sebagai gereja rumahtangga yang memuliakan Tuhan dan menghadirkan berkat bagi dunia.

Marilah kita berteduh sejenak dan belajar mempercayakan seluruh hidup kepada pemeliharaan-Nya. Ikutilah beberapa langkah berteduh berikut:

  1. Berdoalah
  2. Bacalah nas Alkitab ini: 1 Korintus 15 : 12 – 19
  3. Tulislah satu atau dua kebenaran tentang anugerah pemeliharaan Allah yang akan menjadi komitmen saudara untuk menjalani bulan Mei!
  4. Berdoalah mengakhiri saat teduh