september background Stock Vector | Adobe Stock

Laki – Laki Bae

Efesus 5 : 25 – 27

1 September

Selasa

M

asih ingatkah kita akan lagu : Laki-laki Bae ? Lagu yang sempat viral di tahun 2019 yang dinyanyikan Beto Habibu (Idol) menjadi lagu yang menarik disimak. Salah satu liriknya mengatakan ”Laki-laki bae selalu jaga se pung perasaan, Laki-laki bae selalu lindungi se nona” . Hidup saling menjaga perasaan dan melindungi penting dimiliki sebagai karakter dalam berumah tangga. Tidak jarang harus kita akui bahwa banyak persoalan dalam keluarga berakar dari minimnya rasa hormat dan kasih antara suami-istri. Tindakan KDRT, perselingkuhan, dan perceraian bahkan pembunuhan bisa terjadi karenanya. Itulah sebabnya penting memahami soal kebersamaan atau kesatuan hidup. Efesus 5:25-27 memberikan pesan tersebut dengan secara khusus menjelaskan bagaimana sikap laki-laki yang seharusnya. “Laki-laki harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya” (5:25). Pesan ini mengandung makna bahwa Kristus mesti menjadi model keteladanan bagi laki-laki. Kasih-Nya mendorong laki-laki untuk tidak bersikap kasar atau ringan tangan dan mulut. Pertengkaran dalam rumah tangga tidak mesti dipandang sebagai batu loncatan untuk memperlihatkan kuasa atau arogan tetapi dalam kebijaksanaan mendampingi perempuan. Suasana damai dan sukacita harus dihadirkan melalui peran laki-laki. Karena itu, jadilah selalu laki-laki bae.

Doa: Tuhan, ajar kami saling mengasihi dalam keluarga Amin

Efesus 5 : 22 – 24

37

2 September

Rabu

Istri harus mengasihi Suami

R

asul Paulus mengangkat masalah kesatuan dalam jemaat sebagai salah satu persoalan utama dalam surat Efesus. Apa yang disoalkan bisa dikatakan merupakan masalah yang tetap terupdate. Di era ini, berbagai upaya memecah belah persekutuan kerap terjadi bahkan di dalam lingkungan keluarga. Teks hari ini menyoroti peran perempuan sebagai istri. Penulis menggunakan kata “tunduk” sebagai sikap yang mesti diperlihatkan perempuan kepada suaminya. Yang menarik, Kristus tetap menjadi role model atas sikapnya.“Hai istri, tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan”. Pesan ini berarti sikap yang diperlihatkan mesti bersesuaian dengan kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah seperti dilakukan terhadap Tuhan.Tuhan adalah pengasihi dan penyayang dan bila suami memperlihatkan sikap yang bertentangan maka istri mesti arif dalam memperlihatkan “tunduk” kepada suami. Pastinya bukan petunjuk agar istri mencari pria idaman lain. Sebaliknya istri diajak agar tetap bisa menghormati suami. Kurang-kurangnya seorang suami, tetap mintakan hikmat dari Tuhan, agar bisa setia dan bijaksana dalam menjalani biduk rumah tangga. Kristuslah Kepala dalam rumah tangga kita dan sebab itu, seorang istri atau perempuan harus belajar mengasihi suaminya atau laki-laki.

Doa: Tuhan ajar kami untuk belajar saling menghormati Amin.

Keluarga yang Baku Sayang

1 Yohanes 4 : 7 – 12

3 September

Kamis

K

ita selalu diajak untuk saling mengasihi satu dengan yang lain apalagi dalam keluarga. Dinda dan Donny adalah pasangan suami istri, Tetapi rumah tangga yang dijalani sekian tahun tanpa kehadiran anak selalu saja menjadi bumerang bagi mereka berdua. Dinda selalu menyalahkan Doni karena berdasarkan hasil diagnosa dokter, Doni positif dinyatakan mandul. Doni merasa tersudut dengan sikap Dinda tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengasihi Dinda. Sebagai keluarga Kristen, Dinda tidak seharusnya bersikap demikian kepada Doni. Ia harus tetap mengasihi Doni. Memang sulit perjalanan rumah tangga yang mereka lalui, tetapi pernikahan telah menjadi keputusan iman mereka dan sebab itu mereka harus bisa tetap menjalaninya. Kasih harus tetap menjadi pondasi rumah tangga mereka. Teks hari ini memberikan alasan utama mengapa mereka harus mengasihi. Allah adalah kasih itulah jawabannya. Karena Allah adalah kasih maka Dinda mesti memahami bahwa ketiadaan anak bukan penghalang baginya dan Doni untuk tetap saling mengasihi. Ia harus mengasihi Doni apa adanya sebagaimana Doni tetap mengasihinya. Allah adalah kasih dan dalam kasih-Nya, kita tidak tahu apa maksud-Nya dibalik setiap peristiwa yang terjadi. Satu hal yang pasti : kita keluarga yang dikasihi Allah, maka sudah sepantasnya kita hidup baku sayang.

Doa: Tuhan ajar kami untuk tetap baku sayang Amin.

Kidung Agung 8 : 5 – 7

4 September

Jumat

Tetaplah Saling Mencinta

O

pa Edo dan oma Leny adalah dua orang lansia yang memiliki kisah hidup yang menarik. Dalam usia lanjut, mereka merupakan teman cerita yang sulit dipisahkan. Opa Edo memiliki kebiasaan ruk-ruk (marah) bila oma Leny belum duduk bercerita dengannya. Oma Leny walau kadang dimarahi opa Edo namun beliau dengan setia selalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Opa Edo kelihatannya selalu merasa tidak lengkap bila oma Leny tidak bersamanya. Kisah mereka memperlihatkan kekuatan cinta yang mendalam. Walau dalam usia lanjut, namun mereka tetap memilih bersama. Kitab Kidung Agung menuliskan kekuatan cinta dalam teks hari ini. Sebagai kidung yang terindah, atau dalam terjemahan lain , Kidung Salomo, teks ini mengibaratkan cinta kuat bagai maut. Karena kuatnya cinta, maka yang membangun hubungan atas dasar cinta pasti akan bertahan. Keluarga Kristen mesti tetap menjadikan cinta kasih Kristus sebagai dasar dalam hidupnya. Tanpanya maka berbagai krisis akan terjadi dalam keluarga apalagi di era digital ini. Bisa saja suami-istri tidak saling menghargai; anak tidak mau ditegur, hubungan adik kakak yang renggang atau bahkan juga minimnya komunikasi. Keluarga Kristen sebagai gereja seharusnya tetap memberi diri dipenuhi dengan cinta kasih Kristus. Mari menua bersama dalam terang cinta kasih Tuhan.

Doa: Tuhan ajar kami untuk tetap mempertahankan cinta, Amin.

Kasih Menjadi Pengikat

Kolose 3 : 14 – 15

ilipi 4: 4-9

5 September

Sabtu

K

ehidupan sejati seperti apakah yang kita kehendaki terjadi ? Hari ini kitab Kolose menuntun kita menemukannya dalam Kristus. Penulis menceritakan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia adalah kunci yang membuka rahasia Allah dan karena itu manusia harus hidup baru. Segala sesuatu yang duniawi harus dimatikan. Marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor dibuang. Tidak saling mendustai, tidak saling membedakan. Ada belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kelemahlembutan dan kesabaran. Tidak menyimpan dendam. Semua tindakan itu bila dilakukan tanpa kasih sama sekali tidak berarti apa-apa. Kasih harus menjadi dasar dari hidup sebab kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kebenaran ini penting diperhatikan terutama dalam keluarga jemaat. Kita tahu kemajuan era digital membuat banyak perubahan. Tanpa bisa dibendung kita diperhadapkan dengan sejumlah tantangan dan ancaman. Keluarga pun jemaat berada dalam situasi genting yang mendorongnya membangun pertanyaan: bagaimana caranya menyikapi semuanya ? Teks hari ini mengajarkan kita untuk tetap hidup dalam kasih. Hanya ketika kasih dijadikan pengikat, maka kita akan bisa menjalani kehidupan dalam sukacita dan damai sejahtera. Sebab itu, mari jadikan kasih sebagai pengikat.

Doa: ya Tuhan Yesus, satukanlah kami dalam kasih-Mu, Amin.

Maz 136: 1-3 & Pkh 4:17-5: 6

6 September

Minggu

Bersyukur dan Tekunlah Bermisi

H

ari ini gereja kita, Gereja Protestan Maluku (GPM), merayakan ulang tahunnya yang ke-91. Sebuah usia yang matang dalam perjalanan pelayanan dan kesaksian iman.

Doa: Terima kasih Tuhan, ajar kami setia berjanji, Amin.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita bersyukur dan berhenti sejenak untuk bertanya: masihkah kita bermisi dengan takut akan Allah? Firman ini mengingatkan, Allah melihat kita yang datang bersyukur kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan, bukan hanya hadir secara fisik, menyanyi, berdoa, atau mendengar khotbah. Ibadah sejati dimulai dari hati yang hormat, rendah hati, dan mau mendengarkan suara Tuhan. Sering kali orang berpikir bahwa bermisi berarti pergi ke tempat jauh, membangun gedung, atau melakukan kegiatan sosial. Semua itu penting. Tetapi misi yang paling mendasar justru dimulai dari cara kita beribadah kepada Allah. Jika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sombong, penuh keluhan, atau setengah hati, maka pelayanan kita kepada sesama pun akan kehilangan makna. Kita tidak dapat membawa kasih Kristus kepada orang lain jika kita sendiri tidak sungguh mengalami kasih-Nya dalam persekutuan dengan-Nya.Di usia GPM yang ke-91 tahun ini, kita dipanggil untuk tetap tekun bermisi. Namun ketekunan dalam misi hanya dapat lahir dari ibadah yang berkualitas dan hidup yang takut akan Allah. Dirgahayu GPM ke 91, Tuhan berkati!

Hidup dengan Rasa “Takut” yang Sehat

Ibrani 12 : 25 – 29

7 September

Senin

K

ata “takut” bukan berarti ngeri,gemetar atau takut dihukum seolah-olah Tuhan itu Hakim yang siap menghukum. Padahal, “takut akan Tuhan” dalam Alkitab artinya rasa hormat yang sangat dalam, seperti sikap kita saat bertemu Raja Agung yang sangat kita kasihi dan kita muliakan. Kita sadar bahwa Tuhan itu kudus, Dia itu hebat, dan kita tidak boleh main-main dengan dosa. Di zaman sekarang, banyak orang kehilangan rasa hormat ini. Orang berani menyepelekan aturan, berani korupsi, berani menyakiti sesama karena merasa tidak ada yang melihat. Tapi Firman hari ini mengingatkan: Tuhan kita adalah api yang menghanguskan kejahatan. Tidak ada satu pun yang tertutup bagi-Nya. Jadi, bagaimana cara kita meningkatkan kapasitas sebagai pelayan dan umat? Dimulai dari rasa takut ini. Karena kita takut mengecewakan Tuhan, kita jadi bekerja jujur meski tidak diawasi bos. Karena kita takut menyakiti hati Tuhan, kita jadi menjaga lidah agar tidak memfitnah tetangga. Rasa takut ini justru membuat kita bebas dari ketakutan lain: takut miskin, takut sakit, atau takut dihina manusia. Kalau kita sudah hormat pada Sang Pencipta alam semesta, apa lagi yang perlu kita takuti? Mari jadikan rasa hormat ini sebagai rem pengendali dalam hidup kita, agar langkah kita selalu lurus di jalan-Nya.

Doa: Tuhan, beri kami hati yang hormat pada-Mu,Amin.

Pengkhotbah 8 : 9 – 13

8 September

Selasa

Nikmati Hidup, Jangan Cuma Mengejar Angin

P

ernahkah saudara-saudari merasa hidup ini tidak adil? Kok orang jahat malah kelihatan sukses, hidupnya enak, padahal dia curang di sana-sini? Sementara orang baik malah sering menderita? Pengkhotbah mengakui realita pahit ini: memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak masuk akal bagi otak kita. Tapi pesannya jelas: jangan iri hati! Jangan sampai kita ikut-ikutan jadi jahat hanya karena melihat orang jahat untung. Itu namanya “mengejar angin”. Hasilnya cuma kelelahan dan kekecewaan. Kesenangan orang berdosa itu cuma sementara, seperti busa sabun yang indah sebentar lalu pecah hilang tak berbekas. Sebaliknya, Firman Tuhan menjanjikan kebahagiaan bagi mereka yang “takut akan Allah”. Bahagia di sini bukan berarti kaya raya atau bebas masalah, tapi punya ketenangan hati yang tidak bisa dibeli uang. Orang yang takut Tuhan bisa tidur nyenyak karena hatinya bersih. Mereka menikmati hidup sehari-hari, makan minum bersama keluarga, bekerja dengan jujur, tertawa dengan anak-anak, sebagai hadiah dari Tuhan. Jadi, tugas kita minggu ini adalah melatih diri untuk puas. Stop membandingkan hidup kita dengan orang lain di medsos. Syukuri apa yang ada, lakukan bagian kita dengan benar, dan biarkan Tuhan yang mengurus sisanya. Itulah kunci hidup yang tenang.

Doa: Tuhan, ajar kami puas dan hidup benar. Amin.

Misi Itu Bukan Cuma Buat Pendeta

Lukas 8 : 1 – 3

9 September

Rabu

S

ering ada anggapan kalau “bermisi” atau melayani Tuhan itu cuma tugas Pendeta, Penatua, atau Diaken saja. Umat biasa tinggal duduk manis di bangku gereja, dengar khotbah, lalu pulang. Salah besar! Lihat cerita di Lukas 8 ini. Yesus berkeliling memberitakan Injil, dan Dia tidak sendirian. Dia didampingi oleh kedua belas murid, dan juga oleh beberapa perempuan seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. Bahkan dikatakan mereka “melayani Yesus dengan kekayaan mereka”. Artinya, misi Tuhan itu dikerjakan bersama-sama oleh semua orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan sederhana. Ini pesan penting untuk peningkatan kapasitas kita semua. Mungkin kita tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi kita bisa melayani dengan masakan untuk kegiatan gereja. Mungkin kita tidak punya uang banyak untuk memberi persembahan besar, tapi kita punya waktu untuk menjenguk tetangga yang sakit. Mungkin kita hanya ibu rumah tangga, tapi ketika kita rajin berdoa itu adalah kekuatan bagi misi gereja. Tidak ada pelayanan yang kecil di mata Tuhan jika dilakukan dengan kasih. Mari kita tekun menggunakan talenta masing-masing. Jangan tunggu dipanggil jadi pejabat gereja baru mau gerak. Mulai hari ini, jadilah misionaris di lingkunganmu sendiri: di pasar, di kantor, di sekolah, dan di rumah.

Doa: Tuhan, pakai hidup kami untuk melayani sesama,Amin.

Pengkhotbah 12 : 9 – 14

10 September

Rabu

Inti Hidup Itu Sederhana: Takutlah akan Allah!

D

i akhir hayatnya, sang Pengkhotbah merangkum seluruh pengalaman hidupnya yang panjang dan penuh kebijaksanaan. Setelah mencoba segala macam hal di dunia ini, ia menemukan satu kesimpulan final yang sangat sederhana: “Takutlah akan Allah dan lakukanlah perintah-perintah-Nya.” Titik. Tidak ada rumus rahasia untuk sukses, tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Semuanya kembali pada hubungan kita dengan Tuhan dan ketaatan kita pada firman-Nya. Di dunia yang semakin rumit dengan berbagai pilihan dan godaan, kita sering lupa hal yang paling dasar ini. Kita sibuk membangun menara prestasi, tapi lupa pondasi imannya. Mari kita evaluasi diri: Sudahkah kita menjadi pribadi yang makin takut akan Tuhan seiring bertambahnya usia dan pengalaman? Atau jangan-jangan kita malah makin sombong? Ingatlah bahwa setiap perbuatan, bahkan yang tersembunyi sekalipun, akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Ini bukan untuk menakut nakuti, tapi untuk menyadarkan kita bahwa hidup ini bermakna.Mari tekun meningkatkan kapasitas rohani kita bukan supaya dipuji manusia, tapi supaya kita hidup semakin memuliakan Tuhan. Hiduplah dengan prinsip sederhana: cintai Tuhan, taati aturan-Nya, dan kasihilah sesama. Itulah inti dari segalanya.

Doa: Tuhan, tuntun kami hidup taat sampai akhir Amin.

2 Korintus 5 : 11 – 21

11 September

Jumat

Utusan Damai Kristus

R

asul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Hidup lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Pembaruan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi membawa kita pada sebuah panggilan mulia: menjadi pelayan-pelayan pendamaian. Allah telah lebih dahulu mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus, dan kini Ia mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Menjadi pelayan perdamaian berarti hidup dengan hati yang dipenuhi kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan, bukan dendam; serta membangun hubungan yang retak, bukan memperlebar perpecahan. Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan. Tugas ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak berjalan sendiri. Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah juga memampukan kita untuk berdamai dengan sesama. Ketika kita membuka hati untuk mengampuni dan mengasihi, kita sedang mencerminkan kasih Allah itu sendiri. Karena itu, marilah kita hidup sebagai utusan Kristus, yang melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan damai sejahtera dari Tuhan. Jadilah pembawa damai di mana pun kita berada, sebab itulah identitas kita sebagai pelayan Kristus.

Doa Tuhan, Jadikan kami pembawa damai. Amin

2 Korintus 6 : 1 – 10

12 September

Sabtu

Setia dan Tekun

B

acaan 2 Korintus 6:1-10 menegaskan bahwa anugerah Allah adalah pemberian yang berharga dan tidak boleh disia-siakan. Anugerah itu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan dan kesungguhan melayani Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sekarang adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah saat keselamatan, sehingga kita diajak untuk meresponsnya dengan sungguh-sungguh. Dalam pelayanannya, Paulus menunjukkan sikap tabah dan tekun dalam segala keadaan. Ia menghadapi penderitaan, kesukaran, dan penolakan, namun tetap setia dan tidak menyerah. Pelayanan yang ia lakukan bukan karena keadaan yang mudah, melainkan karena kesadaran akan anugerah Allah yang besar dalam hidupnya. Demikian juga kita, dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, sering diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk tetap bertahan, setia, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Anugerah Allah menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah. Marilah kita hidup dengan penuh syukur, melayani dengan tekun, dan tetap setia dalam segala keadaan, sehingga hidup kita memuliakan Tuhan.

Doa: Tuhan, kuatkan kami setia selalu menjalankan misi-Mu, Amin

Tekun Melakukan Firman

Yakobus 1 : 22 – 27

13 September

Minggu

Y

akobus 1:22-27 mengingatkan kita bahwa iman sejati tidak berhenti pada mendengar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Firman Tuhan bukan sekadar untuk disimpan dalam pikiran, melainkan untuk dihidupi dengan penuh kesungguhan. Tanpa tindakan, iman menjadi kosong dan tidak berdampak. Sering kali kita merasa sudah cukup ketika rajin mendengar Firman, namun Yakobus menegur sikap demikian. Ia menggambarkan orang yang hanya mendengar sebagai pribadi yang mudah lupa, seperti melihat wajah di cermin lalu pergi tanpa perubahan. Sebaliknya, orang yang tekun melakukan Firman akan mengalami kebahagiaan dan berkat dalam hidupnya. Ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan iman. Melakukan Firman tidak selalu mudah, apalagi ketika harus mengendalikan lidah, menjaga hati tetap bersih, dan tetap berbuat baik di tengah keadaan yang tidak mendukung. Namun justru di situlah iman kita diuji dan dimurnikan. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa ibadah yang sejati terlihat dari kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dan hidup yang menjaga kekudusan. Karena itu, marilah kita terus belajar setia, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi sebagai pelaku Firman yang tekun, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan Tuhan.

Doa Tuhan, mampukan kami untuk setia melakukan firmanMu. Amin

Doa Tuhan, mampukan kami untuk setia melakukan firmanMu. Amin

Mazmur 119 : 97 – 104

14 September

Senin

Manisnya Firman Tuhan

P

emazmur berkata bahwa firman itu lebih manis dari madu, bahkan menjadi sumber hikmat yang melebihi pengajaran manusia. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merenungkan firman setiap hari, hidupnya dibentuk oleh kebenaran yang sejati. Firman Tuhan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, dihayati, dan dilakukan. Bacaan ini menggambarkan kecintaan yang mendalam kepada firman Tuhan Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari nasihat dari berbagai sumber. Namun, firman Tuhan memberi arah yang pasti dan tidak menyesatkan. Ketika kita setia merenungkannya, kita menjadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, lebih peka terhadap kehendak Tuhan, dan lebih kuat menghadapi tantangan hidup. Firman itu juga menolong kita membedakan yang benar dan yang salah, sehingga langkah hidup kita tetap lurus. Karena itu, mari menjadikan firman Tuhan sebagai bagian penting setiap hari. Seperti makanan yang menguatkan tubuh, firman Tuhan menguatkan jiwa kita. Ketika kita merasakannya sebagai sesuatu yang manis, kita akan rindu untuk terus mendekat kepada Tuhan dan hidup dalam kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, Ajari kami mencintai firmanmu. Amin.

Doa Tuhan, Ajari kami mencintai firmanmu. Amin.

Firman Tuhan Pelita Hidup

Mazmur 119 : 105 – 106

15 September

Selasa

M

azmur 119:105–106 menyatakan bahwa Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan hidup kita. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dosa, dan kebingungan, Firman Tuhan menjadi sumber tuntunan yang menolong kita melangkah dengan aman. Seperti pelita di malam hari, Firman Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh masa depan sekaligus, tetapi memberi terang yang cukup untuk setiap langkah agar kita tidak jatuh dalam kegagalan moral maupun keputusasaan. Sebagai “pelita bagi kaki,” Firman Tuhan memberi tuntunan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Saat menghadapi pilihan sulit atau dilema hidup, nilai-nilai kebenaran dalam Alkitab menjadi kompas yang menolong kita tetap berjalan di jalan yang benar. Melalui perenungan Firman, kita memperoleh hikmat untuk membedakan yang baik dan yang jahat sehingga keputusan yang diambil selaras dengan kehendak Tuhan.Firman Tuhan juga menjadi “terang bagi jalan,” yang memberi arah dan pengharapan bagi masa depan. Terang-Nya mengusir ketakutan serta memberikan keyakinan bahwa Tuhan sedang menuntun hidup kita menuju tujuan yang indah. Karena itu, hidup dalam terang Firman berarti membiarkan kasih dan kebenaran Tuhan memimpin setiap langkah hingga kita mencapai akhir perjalanan dengan selamat.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menjadikan firman Tuhan pelita hidup. Amin

Top of Form

Lukas 11 : 27 – 28

16 September

Rabu

Bottom of Form

Firman Membawa Kebahagiaan

D

alam Lukas 11:27-28, Yesus menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari hubungan darah atau keistimewaan lahiriah, melainkan dari sikap mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Mendengar firman berarti membuka hati terhadap kebenaran Tuhan, sedangkan memeliharanya berarti mewujudkan firman itu dalam tindakan nyata setiap hari. Ketaatan kepada firman membentuk karakter kristiani yang kuat dan membawa dampak baik bagi sesama. Pesan ini sangat relevan dalam memperingati Hari Demokrasi Internasional hari ini. Demokrasi yang sehat tidak hanya berbicara tentang kebebasan dan sistem pemerintahan, tetapi juga tentang integritas, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang memperjuangkan kebenaran, menjaga kedamaian, dan menghargai keberagaman. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menghidupi iman dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kebahagiaan karena taat pada firman Tuhan harus tercermin dalam sikap yang membawa damai dan kasih kepada semua orang. Melalui kehidupan yang berlandaskan firman, kehadiran kita dapat menjadi berkat serta menghadirkan terang Tuhan di tengah dunia.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu mendengar dan memelihara firman-Mu. Amin.

Keberanian Sejati Berakar pada Firman-Nya

Yosua 1 : 1 – 9

17 September

Kamis

K

eberanian sejati yang diperintahkan Tuhan kepada Yosua bukan sekadar nekat, melainkan keberanian yang berakar pada firman-Nya. Merenungkan Taurat siang dan malam berarti menyelaraskan pikiran dan detak jantung kita dengan kasih Tuhan. Ketika kita memenuhi pikiran dengan kebenaran-Nya, ketakutan akan masa depan yang tidak pasti akan berganti dengan keteguhan hati. Firman Tuhan menjadi kompas yang memastikan langkah kita tetap lurus di tengah badai kehidupan yang penuh tantangan. Ketaatan kepada firman Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan yang seksama. Tuhan tidak hanya meminta Yosua menghafal janji-Nya, tetapi bertindak sesuai dengan segala hukum yang ada. Dalam konteks pelayanan, bertindak seksama berarti bekerja dengan penuh integritas, ketelitian, dan kasih yang tulus. Kedekatan kita dengan firman Tuhan seharusnya membuahkan karakter yang disiplin dan penuh tanggung jawab, sehingga setiap pekerjaan yang kita lakukan mendatangkan berkat dan keberhasilan bagi banyak orang. Semangat Yosua ini sangat relevan dengan peringatan Hari Palang Merah Indonesia (PMI) hari ini. Para relawan PMI dipanggil untuk memiliki keteguhan hati dan tindakan nyata dalam misi kemanusiaan tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana Yosua disertai Tuhan ke mana pun ia pergi.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk berani dan berhati teguh. Amin.

Ulangan 8 : 1 – 3

18 September

Jumat

Membangun Dasar yang Kokoh

U

langan 8:1-3 mengingatkan kita bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan bukan sekadar kewajiban agama, melainkan jalan menuju kehidupan dan pemulihan. Musa menegaskan bahwa bangsa Israel harus berpegang teguh pada seluruh perintah Tuhan agar mereka memperoleh kekuatan untuk memasuki dan menduduki negeri yang dijanjikan. Hal ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan sejati dalam hidup tidak ditentukan oleh strategi manusiawi semata, melainkan oleh sejauh mana kita menyelaraskan langkah kaki kita dengan kehendak Allah. Melakukan perintah-Nya dengan setia adalah bentuk pengakuan bahwa Dia adalah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Melalui ayat-ayat ini, kita juga diajak untuk mengingat kembali “perjalanan di padang gurun” masa-masa sulit di mana Tuhan membiarkan kita merasa lapar atau kekurangan untuk merendahkan hati kita. Proses ini bertujuan untuk menguji apa yang ada di dalam hati kita: apakah kita tetap setia mengikuti perintah-Nya saat situasi tidak ideal? Padang gurun adalah sekolah iman di mana Tuhan mengikis kesombongan dan melatih kita untuk tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri, melainkan sepenuhnya bersandar pada penyertaan-Nya yang sempurna. Firman-Nya adalah sumber kehidupan yang memberi kita daya tahan di tengah krisis. Ketika kita setia melakukan perintah-Nya, kita sedang membangun hidup di atas dasar yang kokoh.

Doa: Tuhan, bantu kami membangun dasar hidup yang kokoh diatas firmanMu. Amin.

Merawat Ingat, Menjaga Ketaatan

Ulangan 8 : 4 – 10

19 September

Sabtu

K

adang kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, hingga lupa merawat ingat akan segala berkat yang sudah ada di tangan. Kita sering merasa masa depan menakutkan, padahal Tuhan telah membuktikan pemeliharaan-Nya yang tak berkesudahan setiap hari. Inilah pesan utama Ulangan 8:4-10. Selama 40 tahun pengembaraan di gurun yang gersang, pakaian bangsa Israel tidak rusak dan kaki mereka tidak bengkak. Allah mendidik mereka seperti seorang ayah; bukan untuk menyiksa, melainkan demi meningkatkan kapasitas rohani serta kesabaran mereka. Ingatan akan kebaikan Tuhan di masa lalu inilah yang seharusnya menjadi energi utama bagi kita untuk menjaga ketaatan di masa kini. Tuhan menjanjikan kelimpahan, namun syaratnya satu: setia berpegang pada perintah-Nya dan hidup takut akan Dia sebagai wujud hormat. Berpegang teguh berarti memilih kejujuran di tengah tawaran jalan pintas duniawi yang menggiurkan. Hidup menurut jalan-Nya berarti konsisten mengutamakan kasih dalam setiap perbuatan nyata kepada sesama. Saat kita ingat Tuhan dan taat kepadaNya, kesuksesan tidak akan membuat kita sombong karena kita sadar setiap kelimpahan adalah pemberian-Nya. Mari melangkah dengan percaya bahwa Dia yang setia memelihara kita di masa lalu, adalah Tuhan yang sama yang memegang kendali penuh atas masa depan kita.

Doa: Tuhan tuntun kami agar terus merawat ketaatan kepadaMu. Amin

Yohanes 13 : 1 – 20

20 September

Minggu

Melayani dengan Rendah Hati

S

aat ini, seakan kerendahan hati menjadi barang langka. Akibatnya, hubungan dalam keluarga atau masyarakat sering retak karena ego yang terlalu tinggi dan keengganan untuk mengalah. Teks Yohanes 13:1-20 memberikan teladan yang sangat kontras melalui tindakan Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya. Secara teologis, tindakan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan yang paling tinggi justru dinyatakan melalui pelayanan yang paling rendah. Mencuci kaki adalah tugas seorang budak, namun Yesus, Sang Guru, melakukannya untuk mengajarkan tentang kerendahan hati da menghapus kesombongan para murid-Nya. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati di dalam keluarga dimulai dari kesediaan untuk menjadi “hamba” bagi anggota keluarga yang lain. Gereja wajib membimbing orang tua dan anak-anak untuk memiliki hati yang tulus dalam membantu sesama tanpa mengharap imbalan. Jangan biarkan pelayanan kita di gereja berbeda dengan sikap kita di rumah yang mungkin masih kasar atau egois. Mari kita belajar untuk tekun melayani Tuhan dengan cara merendahkan hati di hadapan sesama manusia.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk melayaniMu dengan rendah hati, amin

Amsal 15:33

21 September

Senin

Rendah Hati: Jalan menuju Hikmat dan Kehormatan

Amsal 15 : 33

21 September

Senin

K

erendahan hati diletakkan sebagai syarat mutlak yang harus ada sebelum seseorang menerima hikmat dan kehormatan. Tuhan tidak dapat mengisi hati yang sudah penuh dengan keakuan; karena itu, kerendahan hati merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri yang membutuhkan bimbingan Ilahi. Alkitab menetapkan pola yang tegas bahwa kerendahan hati adalah pintu masuk, sementara hikmat dan kehormatan adalah hasil akhirnya. Kehormatan yang dimaksud di sini bukanlah penghormatan duniawi yang dikejar melalui materi atau jabatan, melainkan pengakuan tulus dari Tuhan yang lahir karena karakter yang telah teruji, bukan karena paksaan atau sekadar pencitraan. Berdasarkan kebenaran ini, mari kita berhenti mengejar pengakuan dunia yang semu dan mulai membangun hidup di atas dasar rasa hormat kepada Tuhan. Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh ego atau haus akan jabatan, karena kehormatan yang bernilai kekal lahir dari karakter yang teruji di hadapan Allah, bukan dari pencitraan di mata manusia. Milikilah keberanian untuk mengakui keterbatasan diri dan tunduklah pada otoritas Tuhan, sebab saat kita memilih untuk tetap rendah hati, saat itulah Tuhan sendiri yang akan mengangkat dan melimpahkan hikmat-Nya bagi kita.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami, pribadi yang rendah hati, amin

Matius 18 : 1 – 5

22 September

Selasa

Menjadi Besar dengan Merendah

P

ertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar di Surga menunjukkan bahwa mereka masih terjebak dalam ambisi duniawi. Mereka mengira Surga memiliki hierarki kekuasaan yang sama dengan kerajaan di bumi. Namun, Yesus justru menghadirkan seorang anak kecil sebagai teladan. Di masa itu, anak kecil tidak memiliki status sosial atau kekuatan apa pun. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa syarat utama masuk Kerajaan Surga adalah bertobat dan menjadi “kecil” dalam ego. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti tidak dewasa, melainkan melepaskan ambisi berkuasa dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kebesaran di mata Tuhan berbanding terbalik dengan dunia; yang terbesar adalah mereka yang paling rendah hati dan rela melayani orang-orang yang dianggap remeh. Mari kita berhenti mengejar pengakuan atau jabatan yang hanya memicu persaingan. Nilai diri kita di hadapan Tuhan tidak diukur dari hebatnya prestasi, tetapi dari ketulusan hati untuk bergantung pada bimbingan-Nya. Milikilah hati yang jujur dan tidak menyimpan dendam. Percayalah, saat kita berani melepaskan gengsi dan tulus melayani sesama, di situlah kita benar-benar menjadi besar dalam pandangan Tuhan. Jalan menuju Surga bukanlah melalui tangga kekuasaan, melainkan melalui pintu kerendahan hati.

Doa: Menjadi besar dengan merendah adalah harapan kami, Tuhan, dengarkanlah, amin

Yohanes 12 : 1 – 8

23 September

Rabu

Melayani Yesus Dengan Tulus Dan Penuh Kerendahan Hati

T

indakan Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni menggambarkan puncak pelayanan yang tulus. Tulus dalam melayani berarti memberikan yang terbaik, tanpa pamrih dan berpusat pada kasih Kristus, bukan pada penilaian manusia. Maria menggunakan minyak narwastu yang sangat mahal untuk membasuh kaki Yesus dalam kesadarannya untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk persembahan kasih. Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya menyatakan ia merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Yesus. Maria mengajarkan tulus melayani tidak berarti mencari panggung atau pengakuan manusia melainkan fokus menghormati Tuhan. Kontras dengan Maria, Yudas mengkritik pengurapan tersebut dengan alasan ekonomi padahal motivasinya palsu untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dari sini kita belajar ketulusan diuji dari motivasi hati apakah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan diri sendiri. Kisah Maria memberikan motivasi benar bagi kita yang terpanggil untuk melayani dalam ruang-ruang hidup dan kerja kita sebab semua itu pun kita lakukan untuk Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayaniMu dengan tulus dan rendah hati dalam setiap peran dan fungsi setiap hari. Amin.

24 September

Kamis

Ulangan 8 : 11 – 20

Bersyukur Dan Jangan Melupakan Tuhan

T

eks bacaan hari ini merupakan teguran sekaligus peringatan penting dari Musa kepada bangsa Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. Teguran dan peringatan tersebut menekankan bahwa bersyukur bukan hanya ucapan melainkan tindakan mengingat, taat dan kerendahan hati untuk mengakui Tuhan sebagai sumber segala berkat. Musa memperingatkan agar bangsa Israel tetap mengingat segala kebaikan dan tidak melupakan Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Hal ini pun harus menjadi pengingat dalam hidup kita bahwa orang yang tahu bersyukur tidak lupa diri saat sukses. Kemakmuran seringkali membuat manusia sombong dan merasa berhasil karena usahanya sendiri. Syukur yang benar berarti secara sadar mengingat masa-masa padang gurun dan mengakui bahwa semua kelimpahan saat ini adalah berkat Tuhan. Orang yang tahu bersyukur mengerti bahwa bahwa kecerdasan, kesehatan dan kesempatan kerja berasal dari Allah bukan sekedar hasil jeri payah sendiri. Mengucap syukur pun tidak cukup dengan kata-kata saja tetapi tindakan nyata dari rasa syukur adalah taat dan setia kepada kehendak Tuhan. Bersyukur adalah perintah Tuhan, maka bersyukurlah dalam segala hal.

Doa: Ya Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tahu bersyukur. Amin

Rendahkanlah Dirimu Dalam Pelayanan

25 September

Jumat

1 Korintus 4 : 6 – 13

K

esombongan sering menjadi akar pahit dalam kehidupan orang percaya. Sadar atau tidak, kesombongan membuat seseorang lupa bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah Allah. Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mengalami perpecahan dan kesombongan rohani. Ada yang mereka merasa lebih tinggi dan lebih baik daripada yang lain. Paulus mengingatkan bahwa kedewasaan rohani tidak diukur dari status, pengetahuan, atau pujian manusia, melainkan melalui pelayanan yang rela berkorban dan hidup dalam kerendahan hati. Kerendahan hati dimulai dengan menaati firman Tuhan, bukan mengandalkan hikmat manusia yang membuat seseorang merasa paling benar. Orang yang rendah hati menyadari dirinya masih perlu terus belajar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Paulus memberi teladan melalui pelayanannya yang rela dihina dan dipandang rendah demi Kristus. Sikap itu juga diteladankan Yesus dalam hidup-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup rendah hati dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Dengan kerendahan hati, hidup kita dapat menjadi berkat, kesaksian, dan memancarkan kasih Kristus bagi sesama dalam setiap tindakan dan perkataan sehari-hari.

Doa: Ajarlah kami Tuhan untuk tidak hidup dalam kesombongan diri Amin.

Matius 20 : 25 – 28

26 September

Sabtu

Yesus Teladan Kerendahan dalam Pelayanan

K

epemimpinan yang menghamba merupakan salah satu ajaran penting yang diteladankan oleh Yesus. Pemimpin sejati bukanlah pribadi yang memerintah dengan keras dan menindas seperti cara dunia, melainkan seseorang yang melayani sesama dengan kasih dan kerendahan hati. Melalui ajaran-Nya, Yesus mengubah cara pandang tentang jabatan dan kekuasaan. Otoritas yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk membawa dampak positif melalui pelayanan, bukan untuk menguasai atau mencari keuntungan pribadi. Karena itu, seseorang yang dipercaya memegang jabatan tidak boleh merasa bebas bertindak sesuka hati. Kenyataannya, masih banyak orang menggunakan jabatan dan kuasa untuk meninggikan diri serta menguasai orang lain. Yesus menolak sikap seperti ini dan menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan bagi sesamanya. Yesus sendiri telah memberi teladan dengan rela merendahkan diri dan melayani manusia sebagai bukti kasih-Nya yang besar. Oleh sebab itu, dalam setiap peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, baik di keluarga, gereja, maupun masyarakat, semangat kehambaan harus menjadi dasar hidup orang percaya. Dengan melayani secara tulus, kita sedang menghadirkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita setiap hari.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami meneladani kerendahan hatiMu, amin

Tekun, Jujur Dan Bertanggung Jawab

Lukas 16 : 1 – 13

27 September

Minggu

S

etiap pekerjaan pasti membutuhkan ketekunan, kejujuran dan tanggung jawab tinggi dalam menjalaninya. Kalau kita pahami lebih dalam sesungguhnya wujud dari tanggung jawab itu dinyatakan melalui ketekunan dan kejujuran dimana ada penghargaan atas hidup dan kerja itu sendiri. Marcus Aurelius pernah berkata : “tanggung jawab adalah milikmu, tidak ada yang bisa menghentikan anda dari bersikap jujur atau berterus terang”. Ungkapan ini memberi makna bahwa bagaimanapun kita adanya nanti sangat bergantung pada pilihan dan keputusan kita sendiri. Oleh karena itu baik tekun, jujur dan bertanggung jawab adalah sebetulnya pilihan dan keputusan kita. Hal ini sejalan dengan kisah bendahara yang tidak jujur dalam bacaan ini sebab ketidakjujurannya adalah pilihannya sendiri dan ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya yaitu dipecat oleh tuannya. Kisah ini memang menarik karena di satu sisi tentu kita pun belajar bahwa ketidakjujuran dapat menimbulkan banyak dampak baik bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Oleh karena itu ketika kita berkomitmen pada kejujuran, kita sedang membantu mengurangi tingkat kesalahpahaman, keraguan dan ketakutan di masyarakat. Perbuatan bendahara yang tidak jujur dan menyalahgunakan uang tuannya tidak harus menjadi perilaku kita baik dalam kehidupan keluarga, gereja, dunia kerja kita dan masyarakat. Kejujuran harus tetap menjadi warisan nilai iman yang terpelihara dari genarasi ke genarasi sebab membawa dampak besar bagi hidup yang penuh damai Sejahtera.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami bekerja denan tekun, jujur dan bertanggungjawab. Amin

Ayub 8 : 1 – 7

28 September

Senin

Hidup Bersih dan Jujur

S

uatu ketika, seorang ibu kehilangan anaknya. Dalam duka yang begitu dalam, bukannya mendapatkan penghiburan, ia justru mendengar perkataan yang melukai: “Mungkin ini hukuman Tuhan karena kesalahanmu.” Perkataan itu seakan-akan menambah beban di atas luka yang sudah terbuka. Alih-alih menguatkan, perkataan ini membuatnya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan kehilangan. Hal ini mengingatkan kita kepada Bildad yang menilai penderitaan Ayub sebagai akibat dosa. Padahal, tidak semua penderitaan adalah hukuman atas dosa. Namun di balik pemahaman yang keliru itu, ada suatu kebenaran: hidup yang bersih dan jujur di hadapan Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat hati yang tulus dan setia. Ia tidak menutup mata terhadap pergumulan umat-Nya. Karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Percayalah, Tuhan sanggup memulihkan “rumah” kita baik kehidupan keluarga, maupun masa depan sesuai dengan kehendak-Nya. Pemulihan Tuhan mungkin tidak selalu cepat, tetapi pasti dan penuh kasih.

Doa: Tuhan, ajar kami hidup bersih dan jujur. Pulihkan kehidupan keluarga kami. Amin.

Mengutamakan Kejujuran

2 Raja-raja 12 : 9 – 16

29 September

Selasa

D

alam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelayanan, kita sering diperhadapkan pada hal-hal kecil yang menguji hati: bagaimana kita mengelola kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, dan bersikap tulus pada apa yang dipercayakan kepada kita. Terkadang hal-hal sederhana ini luput dari perhatian, padahal justru di sanalah karakter kita dibentuk. Firman Tuhan dalam 2 Raja-raja 12:9-16 menceritakan bagaimana Imam Yoyada menata kembali pengelolaan persembahan dengan cara yang terbuka. Uang yang terkumpul dipergunakan untuk memperbaiki Bait Tuhan, dan para pekerja melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Bahkan mereka tidak diawasi secara ketat, karena mereka dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercaya. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan berkenan bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya. Kejujuran dan ketulusan menjadi dasar yang memampukan pemulihan terjadi baik dalam pelayanan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Doa: Tuhan, mampukan kami bekerja dengan rajin dan jujur. Amin.

30 September

Rabu

Kerja Jujur Mendatangkan Berkat

Amsal 21 : 5 – 6

D

i tengah realitas hidup saat ini, tidak sedikit orang yang tergoda untuk menjalani hidup dengan cara yang kurang bertanggung jawab, seperti enggan bekerja dengan sungguh-sungguh, terlalu tergantung pada bantuan, atau mencari jalan pintas melalui pinjol, praktik judi, maupun cara lain yang tidak tepat. Tekanan ekonomi yang semakin meningkat juga sering membuat sebagian orang tergoda untuk mengabaikan nilai kejujuran demi memperoleh keuntungan dengan cepat. Namun, Kitab Amsal 21:5-6 mengingatkan bahwa rancangan orang yang tekun akan membawa kelimpahan, sedangkan keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar hanya bersifat sementara dan pada akhirnya mendatangkan kesulitan. Firman Tuhan ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi dari proses yang dijalani dengan benar. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dengan disiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab, menggunakan setiap kesempatan dengan bijaksana, serta tetap menjujung tinggi kejujuran. Dengan demikian kita mempercayakan hidup kepada Tuhan melalui proses yang benar, sehingga berkat yang kita terima menjadi berkat yang membawa kebaikan dan damai sejahtera bagi diri sendiri maupun sesama.

Doa: Tuhan, kami percaya berkatMu ada bagi kami yang bekerja dengan jujur, Amin.

TEDUH DI AKHIR SANTAPAN

B

ulan ini menjadi bulan yang penting bagi gereja, sebab pada minggu pertama di bulan ini, tepatnya tanggal 6 September, kita merayakan Hari Ulang Tahun GPM ke-91. Perayaan ini bukan hanya menjadi peristiwa sukacita, tetapi juga menjadi waktu untuk melihat kembali perjalanan iman gereja, umat, dan para pelayan di hadapan Tuhan. Sebagai gereja yang terus berjalan dalam panggilan pelayanan, rasa syukur atas usia GPM ke-91 seharusnya menuntun kita pada perenungan yang lebih dalam. Apakah kita hanya bersukacita karena bertambahnya usia gereja, ataukah kita juga semakin bertumbuh dalam iman, pelayanan, dan kesetiaan kepada Tuhan? Apakah sebagai umat dan pelayan, kita telah memakai hidup ini untuk membangun gereja dan menghadirkan kesaksian Kristus di tengah dunia?

Pelayanan tidak cukup dilakukan hanya dengan kebiasaan, pengalaman, atau semangat semata. Gereja membutuhkan pelayan dan umat yang terus belajar, terus dibentuk, terus memperlengkapi diri, dan terus hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Dalam rasa syukur, kita bertanggung jawab untuk melakukan misi menyatakan panggilan Tuhan di tengah-tengah dunia. Setiap keluarga dipanggil untuk menjadi tempat bertumbuhnya iman, kasih, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Firman Tuhan. Salah satu wujud nyata dari panggilan itu ialah mendengar dan melakukan Firman Tuhan dengan tekun. Sebab gereja yang kuat dimulai dari umat dan keluarga yang mau dibentuk oleh Firman Tuhan.

Karena itu, di akhir bulan September ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah Firman Tuhan hanya kita dengar, atau sungguh kita lakukan dalam kehidupan setiap hari?

Marilah kita berteduh sejenak di hadapan Tuhan. Biarlah rasa syukur atas perjalanan gereja ini menjadi doa dan komitmen iman, supaya kita semakin tekun melayani, tekun belajar, tekun bermisi, dan tekun melakukan Firman Tuhan.

Lakukanlah beberapa langkah berteduh ini:

  1. Tenanglah dan berdoalah kepada Tuhan.
  2. Ingatlah satu hal yang membuat saudara bersyukur atas perjalanan GPM sampai usia ke-91.
  3. Bacalah Alkitab: Yakobus 1:22-27
  4. Renungkanlah perjalanan iman saudara selama bulan September ini: apakah saudara telah bertumbuh dalam mendengar dan melakukan Firman Tuhan?
  5. Berdoalah bagi GPM, para pelayan, seluruh umat, dan keluarga-keluarga Kristen agar tetap setia bermisi dalam rasa takut akan Tuhan.